Latest News

Tampilkan postingan dengan label RESENSI BUKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESENSI BUKU. Tampilkan semua postingan

Ngulik Buku "Ong Tien: Dalam Cinta Susuhunan Gunung Jati" Karya Adrian Wenzel di Rumah Budaya Ratna



Malang, 7 Maret 2025 – Rumah Budaya Ratna akan menjadi tempat bagi acara Ngulik Buku yang menghadirkan buku "Ong Tien: Dalam Cinta Susuhunan Gunung Jati" karya Adrian Wenzel. Acara ini akan dilaksanakan pada Sabtu, 15 Maret 2025, pukul 18.00 WIB, di Library Cafe, Bookshop & Fortune Telling yang terletak di Jl. Diponegoro 3, Kota Malang.


Dalam acara tersebut, Bambang AW, penulis buku "Ong Tien: Dalam Cinta Susuhunan Gunung Jati", akan berbicara lebih dalam mengenai karya yang menggugah ini. Buku yang menyentuh tema cinta, sejarah, dan identitas ini membawa pembaca untuk menyelami kisah yang erat kaitannya dengan perjalanan Gunung Jati, serta kisah kasih yang penuh dengan nilai budaya dan kemanusiaan.


Diskusi akan dipandu oleh Abdul Malik dan dimoderatori oleh Dika Sri Pandanari, seorang pendiri Lingkar Studi Filsafat Discourse, yang tentunya akan memberikan perspektif berbeda dalam menggali makna dan filosofi yang terkandung dalam buku ini. Acara ini juga akan dimeriahkan dengan alunan musik dari The Crimson, yang akan menambah suasana santai dan penuh inspirasi.


Acara ini terbuka untuk umum dengan biaya yang sangat terjangkau, cukup memesan kopi dan snack di tempat. Dengan suasana yang hangat dan penuh diskusi, Ngulik Buku ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk lebih mengenal lebih jauh tentang budaya, sejarah, serta pandangan hidup yang diangkat melalui karya sastra.


Detail Acara:

  • Judul Acara: Ngulik Buku "Ong Tien: Dalam Cinta Susuhunan Gunung Jati"
  • Tanggal: Sabtu, 15 Maret 2025
  • Waktu: 18.00 WIB
  • Tempat: Rumah Budaya Ratna, Library Cafe, Bookshop & Fortune Telling
  • Alamat: Jl. Diponegoro 3, RT 01 RW 05, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang 65111
  • Instagram: @rumahbudayaratna
  • Kontak: 08989955407, +62 817-4918-818
  • Google Maps: Nawak Dolan
  • Biaya: Gratis (Cukup pesan kopi & snack)


Bagi Anda yang tertarik dengan dunia sastra, sejarah, dan filosofi, acara ini bisa menjadi pengalaman yang memperkaya wawasan. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk berinteraksi langsung dengan penulis dan moderator, serta menikmati suasana yang nyaman dan penuh inspirasi di Rumah Budaya Ratna.

Gramedia Hadirkan Semesta Buku 2025, Rayakan Petualangan Literasi di Lebih dari 30 Kota di Indonesia

 


Surabaya – Gramedia, jaringan toko buku terkemuka di Indonesia, kembali menyuguhkan festival literasi terbesar di tanah air melalui acara Semesta Buku 2025. Acara ini akan diselenggarakan di lebih dari 30 kota di seluruh Indonesia, termasuk Surabaya, untuk merayakan kekayaan dunia buku dan literasi. Semesta Buku 2025 bertujuan untuk mengajak masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, untuk kembali menemukan kegembiraan dalam membaca dan mengeksplorasi berbagai genre buku yang dapat memperkaya pengetahuan dan imajinasi.


Festival Literasi yang Menghadirkan Beragam Kegiatan Menarik


Semesta Buku 2025 bukan hanya sebuah acara pameran buku biasa, tetapi juga sebuah festival literasi yang penuh dengan berbagai kegiatan seru yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Dalam rangka merayakan petualangan literasi, Gramedia menghadirkan berbagai program menarik seperti:

  • Diskusi dan Workshop: Penulis terkenal, tokoh literasi, dan ahli di bidangnya akan hadir untuk berbagi pengetahuan melalui diskusi, seminar, dan workshop yang berfokus pada dunia buku, penulisan, dan pengembangan literasi. Peserta dapat mengikuti berbagai sesi interaktif yang membahas topik-topik menarik dari berbagai genre buku.

  • Meet & Greet Penulis: Bagi para penggemar penulis terkenal, Semesta Buku 2025 juga memberikan kesempatan untuk bertemu langsung dengan penulis favorit mereka. Acara ini memungkinkan pembaca untuk berdiskusi langsung dengan penulis, serta mendapatkan tanda tangan dan foto bersama.

  • Lomba Menulis dan Bercerita: Acara ini juga membuka kesempatan bagi para peserta untuk menunjukkan bakat menulis atau bercerita melalui lomba yang diselenggarakan. Lomba ini terbuka untuk berbagai kategori usia dan genre, memberikan wadah bagi mereka yang ingin menyalurkan kreativitasnya.

  • Pameran Buku dan Diskon Menarik: Pengunjung dapat menikmati diskon besar-besaran untuk berbagai buku, mulai dari buku fiksi, non-fiksi, hingga buku anak-anak. Gramedia juga akan menawarkan buku-buku terbaru dan eksklusif yang bisa ditemukan di acara Semesta Buku 2025.


Menyambut Masa Depan Literasi Indonesia


Semesta Buku 2025 menjadi salah satu upaya Gramedia untuk mendukung gerakan literasi yang lebih luas di Indonesia. Melalui acara ini, Gramedia berharap dapat menciptakan lebih banyak pembaca di seluruh Indonesia, serta mendorong masyarakat untuk menggali lebih dalam dunia literasi, yang tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga pengetahuan yang bermanfaat.


Dengan mengusung tema "Rayakan Petualangan Literasi", acara ini mengajak semua orang untuk menjelajahi dunia tak terbatas yang ada di dalam buku. Gramedia percaya bahwa setiap buku memiliki cerita, informasi, dan petualangan tersendiri yang dapat menginspirasi serta membangun karakter dan wawasan pembaca.


Semesta Buku 2025 di Surabaya


Bagi masyarakat Surabaya, Semesta Buku 2025 akan hadir di beberapa lokasi strategis di kota pahlawan ini. Selain bisa mendapatkan berbagai buku dengan harga terjangkau, pengunjung juga dapat menikmati berbagai aktivitas yang mengedukasi dan menghibur. Acara ini terbuka untuk semua kalangan, mulai dari keluarga dengan anak-anak, hingga remaja dan dewasa yang ingin menambah wawasan mereka.


Para pengunjung juga akan diberikan kesempatan untuk bergabung dalam kegiatan literasi yang mengasyikkan, seperti lomba menulis, sesi cerita bersama anak, serta interaksi langsung dengan penulis dan influencer literasi ternama. Selain itu, pengunjung juga bisa mengeksplorasi buku-buku terbaik di berbagai genre, yang pastinya akan menjadi teman petualangan literasi mereka.


Ajak Semua Orang untuk Ikut Merayakan


Acara Semesta Buku 2025 ini tidak hanya untuk para pencinta buku, tetapi juga untuk siapa saja yang ingin merayakan pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan lebih dari 30 kota yang terlibat, Semesta Buku 2025 diharapkan menjadi ajang untuk membangun budaya membaca yang lebih baik di Indonesia.


Gramedia juga mengundang berbagai pihak, mulai dari komunitas literasi, sekolah, hingga instansi pemerintah, untuk turut meramaikan acara ini. Melalui Semesta Buku 2025, Gramedia ingin menumbuhkan semangat literasi yang tidak hanya berbasis pada hobi, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan pendidikan.

Open Pre Order: Buku Membentuk Generasi Muslim Teladan



 Tentang Buku


Di tengah tantangan era modern, adab dan akhlak menjadi pilar penting untuk membentuk generasi Muslim yang tangguh dan teladan. Buku "Membentuk Generasi Muslim Teladan" hadir sebagai panduan bagi orang tua, pendidik, dan semua pihak yang peduli terhadap pembentukan karakter generasi muda.

Buku ini dirancang untuk:
-Memperbaiki adab dan akhlak di era sekarang.
-Menyediakan referensi praktis untuk pendidikan moral dan spiritual.
-Menjadi alat bantu dalam mendidik generasi yang berakhlak mulia sesuai ajaran Islam.

Penulis Imam Wahyudi dan Dartim, S.Pd., M.Pd., mengemas buku ini dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, namun tetap kaya akan nilai-nilai Islami yang relevan untuk diaplikasikan di berbagai aspek kehidupan.



PRE ORDER: 20-30 Januari 2025

Penulis: Imam Wahyudi dan Dartim, S.Pd., M.Pd.
Ukuran: 14 x 20 cm
Tebal: 214 halaman
Harga: Rp75.000
Terbit: Desember 2024


Manfaatkan kesempatan pre-order ini untuk mendapatkan buku penuh manfaat yang akan menjadi investasi berharga bagi generasi Muslim masa depan.


Cara Pemesanan

Untuk informasi lebih lanjut atau pemesanan, kunjungi website resmi jatimku.com atau hubungi kontak yang tersedia. Jangan lewatkan kesempatan ini, jadilah bagian dari perubahan menuju generasi Muslim yang lebih baik!


Mari bersama membentuk generasi Muslim teladan dengan memulai langkah dari adab dan akhlak yang mulia. 

Jagongan Buku Spesial Hari Pahlawan: Menggali Jejak Penggerak Literasi Bangsa

 


Malang — Dalam semangat memperingati Hari Pahlawan 2024, Gubuk Tulis bekerja sama dengan Duta Damai BNPT RI Regional Jawa Timur dan Oase Institute mempersembahkan acara literasi bertajuk Jagongan Buku: Jejak Penggerak Literasi Bangsa. Acara ini akan berlangsung pada Rabu, 13 November 2024, pukul 19.00 WIB di Oase Cafe & Literacy, Malang.

Mengusung tema "Jejak Penggerak Literasi Bangsa", acara ini bertujuan mengapresiasi perjuangan para pegiat literasi yang terus konsisten menghidupkan budaya membaca di tengah masyarakat. Para pegiat ini dianggap sebagai pahlawan-pahlawan baru yang menciptakan perubahan signifikan melalui gerakan literasi, berkontribusi pada kemajuan peradaban bangsa.

Diskusi dalam acara ini akan menghadirkan dua pembahas utama:

Janwan Taringan, seorang penulis buku yang dikenal dengan karya-karya inspiratifnya yang mengangkat tema literasi dan budaya membaca di Indonesia.

Miri Pariyas T, pegiat literasi yang telah lama aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya aksara dan buku sebagai fondasi peradaban.


Acara ini akan dipandu oleh moderator Anindya Ulhaq, yang akan memimpin diskusi dan interaksi dengan para pembicara serta peserta yang hadir.

Acara Jagongan Buku kali ini juga merupakan wujud kolaborasi dari berbagai pihak yang memiliki visi serupa dalam memajukan literasi di Indonesia. Beberapa kolaborator yang mendukung acara ini antara lain:
- Perempuan Bergerak
- Oase Cafe & Literacy
- Toko Buku Oase
- Semilir Co
- Intrans Publishing


Peserta yang tertarik untuk hadir dapat datang langsung ke Oase Cafe & Literacy, atau mengakses lokasi melalui tautan berikut: https://maps.app.goo.gl/J4xiQgeDimsrwP9h6. Informasi lebih lanjut dan pendaftaran bisa diperoleh dengan menghubungi Fauzi di nomor 082244911117.

Mari bergabung dalam perayaan literasi ini, memperkuat komunitas yang peduli pada budaya membaca, dan berkontribusi dalam membangkitkan kesadaran literasi di masyarakat. Ayo, jadilah bagian dari gerakan literasi untuk membangun Indonesia yang lebih cerdas dan berwawasan luas!



Bedah Buku Spektrum Kota Malang: Edisi Satu Abad Stadion Gajayana

 


Malang, 2 November 2024 – Rumah Budaya Ratna kembali menggelar acara budaya dengan mengadakan bedah buku Spektrum Kota Malang Edisi Satu Abad Stadion Gajayana. Buku ini merupakan dokumentasi penting yang mengupas sejarah Stadion Gajayana, salah satu ikon bersejarah di Kota Malang yang telah berdiri kokoh selama satu abad. Stadion ini tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan olahraga, namun juga ekosistem sosial dan budaya di Malang Raya.


Acara bedah buku ini mengundang berbagai tokoh literasi dan sejarah, termasuk DR. Ir. Wahyu Hidayat, M.M. (Catur Walikota Malang), Ali Muthohirin (Cak Nun wilayah Malang), Bambang AW (Penulis dan Owner Diabolic Gallery Malang), Gedeon Soerja (Founder Hutan Amplas Media Group), serta penulis dan pengamat lainnya. Mereka membahas pengaruh Stadion Gajayana dalam ekosistem kehidupan Malang Raya, mulai dari segi sejarah, sosial, hingga arsitektur.


Dengan mengangkat tema “Verba volant, scripta manent” (ucapan hilang, tulisan abadi), acara ini bertujuan menginspirasi generasi muda untuk mendalami dan menjaga warisan literasi serta sejarah daerah mereka. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis, mengajak seluruh masyarakat untuk hadir di Rumah Budaya Ratna, Jl. Diponegoro No. 3, Kota Malang, pada pukul 19.00 WIB, dan menjadi bagian dari sejarah budaya literasi Indonesia.


Bedah Buku "17-an di Kampung Halaman" di Rumah Budaya Ratna Sukses Meriah


Malang, 4 Oktober 2024 – Acara bedah buku "17-an di Kampung Halaman" karya Tengsoe Tjahjono sukses digelar di Rumah Budaya Ratna, Malang, pada Jumat malam. Acara ini tidak hanya dihadiri oleh penikmat sastra, tetapi juga berhasil menciptakan suasana hangat dan penuh kebersamaan dengan penampilan puisi, musik, serta camilan yang memeriahkan suasana.


Hadir sebagai narasumber utama, Kurnia Effendi—sastrawan ternama dari Jakarta—membawa pandangan baru dan mendalam tentang karya Tengsoe. Kurnia, yang dikenal sebagai sastrawan serba bisa, berbagi pengalamannya sebagai penulis dengan lebih dari 25 buku tunggal dan lebih dari 200 antologi bersama. Dalam sesi diskusi, ia memaparkan tentang makna dan relevansi dari tema nostalgia yang diusung dalam buku "17-an di Kampung Halaman".  



Buku ini mengangkat kehidupan perayaan kemerdekaan di kampung halaman yang penuh kehangatan dan kebersamaan. Tengsoe, penyair asal Banyuwangi yang telah mengabdikan hidupnya di dunia sastra dan pendidikan, kembali menyuguhkan karya yang sarat akan kenangan dan refleksi masa lalu. Karya-karyanya sebelumnya, seperti Meditasi Kimchi dan Pelajaran Menggambar Bentuk, telah mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk penghargaan seni dan budaya dari Balai Bahasa Jawa Timur.


Acara yang berlangsung di Rumah Budaya Ratna juga didukung oleh Paguyuban Sastra Tiga Indonesia dan beberapa sponsor serta mitra media. Selain diskusi buku, pengunjung juga dihibur dengan penampilan musik dan pembacaan puisi yang menciptakan suasana hangat dan interaktif. Camilan yang tersedia sepanjang acara menambah keakraban di antara para peserta yang hadir. 



Dengan sinergi komunitas sastra dan suasana yang menyenangkan, bedah buku ini berhasil menjadi ajang berbagi inspirasi sekaligus mempererat tali silaturahmi para pecinta sastra di Malang.

6 BUKU TERBAIK UNTUK MENEMANI ANDA DALAM BERLIBUR




Anisa AE - Terkadang, bacaan berkualitas dibutuhkan untuk menjadi penyeimbang santainya suasana liburan. Terlebih bila 'pelarian' Anda ini juga menjadi sebuah sarana untuk alasan yang lebih spiritual. Sebagian orang memilih untuk menikmati keindahan pantai, mencari tantangan dengan mendaki gunung, bergabung dalam program kemanusiaan, maupun mencoba liburan sendirian tanpa jadwal perjalanan yang jelas. Yang jelas banyak cara untuk merealisasikan hal tersebut.

Beragam macam destinasi tujuan tersebut bisa dilakukan sembari berkontemplasi tentang kehidupan yang Anda jalani. Acapkali, proses pencarian jati diri ini juga dicapai berkat bantuan medium lain, seperti buku yang bermanfaat. Di luar kemudahan kehidupan modern dimana Anda bisa memesan tiket online untuk berlibur dengan mudah, buku seperti sarana ilmu yang tak akan lekang dimakan usia.


REVIEW NOVEL CANDY FLOSS LOVE




Anisa AE - Sebenarnya agak bingung juga sih, kenapa novel ini diberi judul Candy Floss Love, yang jika diartikan adalah Benang Kapas Cinta. Mungkin maksudnya gula kapas yang biasa dijumpai di pasar malam, ya? Awal baca judulnya, saya mengira jika novel ini menceritakan kisah cinta remaja yang sangat manis. Namun, perkiraan itu berubah ketika saya mengetahui jika di daerah sebelah barat sana, Candy Floss merupakan sebuah perumpaan yang berarti something impossible alias mustahil.

Novel ini menceritakan tentang Chika, gadis SMA yang sangat suka mengkhayal punya pacar bernama Prince, padahal jomblo. Kisah cinta khayalannya itu ditulis pada sebuah buku, yang kemudian tidak sengaja dibaca oleh Sheila, sahabat Chika yang sedang patah hati. Sheila merasa Chika sangat beruntung karena tidak pernah tersakiti oleh cinta yang tidak nyata. Sebaliknya, Chika pun diam-diam iri pada Sheila yang cantik dan banyak diincar laki-laki, sekaligus sebal karena sahabatnya itu tidak bisa move on dari sang mantan dan terkesan berlebihan setiap bersikap.


Tak Ada yang Lebih Tulus (Nokia 3310, GA Hape Pertama)



Sumber : Google
Berbagi dan menginspirasi
Sore ini tak seperti biasanya, Mas Rian mengajakku ke Café Bambu. Dia diam saja di perjalanan, aku heran dengan tingkahnya, ada masalah apa lagi dia? Bahkan tidak ada seloroh dan candaan sama sekali.
Setiba di café, kami sama-sama diam. Aku mencoba menyelam dalam pikirannya. Ada apa dengan lelaki yang yang ada di depanku? Kenapa dia terlihat pendiam dan sangat murung? Biasanya jika ada masalah, dia selalu menceritakannya padaku, meminta pendapat dan solusi, bahkan dia memintaku untuk menceritakan hal-hal konyol untuknya.
“Bid, aku mau ke Kalimantan!” ucap Mas Rian tiba-tiba ketika pelayan menyajikan pesanan kami.
“Ke Kalimantan? Ninggalin aku?”
“Kamu gak akan sendirian kok! Kamu kan bisa SMS-an ma aku!” Senyum menghiasi wajahnya.
“Aku kan gak punya hape, Mas!”  Aku tak bisa menutupi kesedihan yang terpancar dari wajahku. Ya, aku juga tak ingin ditinggal Mas Rian, seperti Rama yang meninggalkanku tanpa kabar.
“Hape ini milikmu!” kata Mas Rian sambil memberikan handphone Nokia 3310 kepadaku.
Aku tertegun, sama sekali tak menyangka akan mendapatkan hadiah darinya. Memiliki handphone adalah impianku selama ini, agar aku bisa menghubungi Rama. Karena mahalnya barang itu, harga cintaku pun semahal handphone itu. Andai aku punya handphone, mungkin aku masih mendengar kabar Rama sampai saat ini.
“Pastinya, ada nomor handphone Sahru di sana. Dia mau menerimamu kembali. Jadi, kamu tetap bisa bersamanya, walau tanpa aku!”
“Kamu hubungin dia?”
Dia mengangguk, “Aku tak ingin kamu kesepian, apalagi menyimpan luka hanya untuk orang yang tak tahu seberapa besar cintamu padanya!”
         Kupandang mata Mas Rian, meminta kejelasan dari matanya. Mata memang tidak pernah bisa bohong. Di sana, di mata itu kutemukan kaca. Mata itu berkaca-kaca, seolah ingin memberi kepastian bahwa itu adalah caranya untuk mencintaiku.
“Aku mencintamu, Bid. Bahagiamu adalah bahagiaku! Jika kau memang bisa bahagia dengan Sahru, aku pun akan merelakanmu dengannya. Aku akan membantumu sampai kamu bisa mendapatkan kabarnya kembali!” ucapnya dengan tersenyum. Entah itu senyum tulus atau paksaan.
Kata-katanya membuatku tak bisa menahan air mata lagi. Bulir-bulir bening mulai jatuh perlahan di atas ke dua pipiku. Sungguh, aku tak pernah menyangka bahwa cinta Mas Rian padaku sangat besar, sampai dia rela mencari informasi tentang Rama dan memberikan handphonenya padaku agar aku bisa berhubungan dengan Rama.
“Mas … aku tak tahu harus berkata apa! Tapi, terima kasih karena kamu mau mengerti aku. Terima kasih, Mas …! Hiks hiks ….” Aku pun mulai menangis di depannya.
“Bid, jangan pernah menangis lagi. Kalau kamu nangis gini, aku jadi sedih! Bukankah aku melakukan semua ini agar kamu bisa tersenyum? Kalau kamu nangis, sia-sia dong usahaku!” ucapnya pelan sambil mengusap air mataku yang mengalir dengan deras.
“Mas, apa kau pergi ke sana karena ingin melupakanku?”
“Tidak! Kau adalah kenangan terindah buatku. Aku tak mungkin bisa melupakanmu, namun aku juga harus menyadari bahwa aku tak bisa mendapatkan cintamu. Biarlah semua mengalir apa adanya. Nanti, jika Allah menghendaki kita berjodoh, kita pun akan bertemu kembali!”
Ah, Mas Rian. Maafkan aku karena tak bisa mencintaimu. Maafkan aku karena hati ini telah menjadi milik Rama, Sahru Ramadhan. Terima kasih karena ketulusan cintamu padaku, terima kasih karena pengorbananmu padaku. (Baca selengkapnya)

Apa itu Penerbit Mayor, Self Publishing, dan Indie?



halaman 4-5

Berbagi dan menginspirasi

Sebenarnya mayor dan indie hanyalah sebuah sebutan dari proses menerbitkan buku tersebut. Mayor biasanya sebutan untuk penerbit besar yang berani mendanai seluruh proses pembuatan buku, mulai dari editing, cover, layout, cetak ribuan ekslempar, sampai ke pendistribusian, semua dikerjakan oleh penerbit tersebut.


Indie berasal dari kata independen, yang berarti berdiri sendiri, bebas, merdeka. Jadi, di sini tidak seluruhnya dibiayai oleh penerbit, melainkan ditangani langsung oleh penulis tersebut. Mulai dari editing, cover, layout, cetak, sampai ke penjualan, semua dana dikeluarkan sendiri oleh penulis.

Jelas berbeda kan?

Lantas, seperti apa itu penerbit indie? Penerbit yang menyediakan fasilitas penerbitan yang salah satunya terdapat paket indie untuk penulis. Editing, cover, dan layout dilakukan oleh penulis.(Baca seengkapnya)

Jilbab dan Kerudung, 2 Hal yang Berbeda




Ada yang tahu jilbab, kan? Bagaimana dengan kerudung? Pasti tahu dong tentang dua benda itu? Kok dua benda sih? Bukannya jilbab dan kerudung adalah satu barang? Well, pertama kali saya juga terkejut membaca perbedaan jilbab dan kerudung. Lha? Di mana bedanya? Bukan karena tulisan dan pengucapannya yang beda. Barangnya pun juga 100% beda.

Jangan samakan jilbab dengan kerudung. Kerudung adalah penutup rambut, biar rambut para muslimah tidak dilihat oleh non mahram. Karena yang boleh dilihat oleh lelaki hanya wajah dan telapak tangan. Hmm. Segitunya, ya? Well, saya tak membahas tentang ayat-ayat Alquran yang menyuruh untuk memakai jilbab, karena saya tahu bahwa semua wanita muslim tahu bahwa memakai jilbab adalah suatu kewajiban dan sudah tertera jelas di dalam Alquran.

Nah. Jilbab ini beda dengan kerudung yang buat menutup rambut. Jilbab adalah baju longgar seperti lorong dari atas sampai kaki. Bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa jilbab yang menyentuh tanah najis, maka tanah berikutnya yang menyucikan. Wow, seperti itukah jilbab? Dari uraian di atas, pasti tahu kalau jilbab adalah baju yang biasa kita sebut dengan gamis atau jubah. Jangan bayangkan gamis yang berkerut-kerut di perut atau gamis yang disekeng. Jilbab ini benar-benar seperti lorong dan tidak ada belokannya. Tahu lorong, kan?

Baca Selengkapnya

Resensi Buku Menanti Cinta


Perkenalan dengan buku ini ketika salah satu teman saya memosting event 100 resensor pada tengah malam. Berhubung bukunya dapat gratis, saya langsung daftar buat ikutan. Siapa sih yang gak suka gratisan? Hehehe. Setelah buku selesai cetak, alhamdulillah nama saya masuk dalam 100 resensor yang terpilih. Wow! Sesuatu banget deh. Jadi makin penasaran dengan isi buku ini.

Beberapa hari kemudian, buku ini tiba dengan selamat di rumah saya. Karena kegiatan yang sangat padat, saya tak sempat membacanya berhari-hari. Akhirnya pada malam Minggu, saya tidak bisa tidur dan melihat buku itu di rak. Tanpa menunggu lama, saya langsung melahap halaman demi halaman yang ada di sana. 230-an halaman itu selesai saya baca kurang dari 2 jam.



Buku ini menyajikan cerita dengan sangat apik dan lugas. Tanpa basa-basi berlebihan dan langsung mengajak pembaca masuk ke dalam cerita. Novel yang menceritakan tentang cinta 2 manusia yang sama-sama mempunyai ikatan karena saling melengkapi kebutuhan hidup mereka. Sama-sama merasa terasing dari dunia luar.

Baca Selanjutnya 

Resensi Buku Mata Kedua

Ramaditya Adikara


Lanjutan cerita tentang Mas Rama. Yup, apalagi kalau bukan tentang bukunya, "Mata Kedua".

Sepulang dari acara KBM Malang, jam 5 sore, saya menyempatkan diri membaca sinopsis dan prolog dari buku tersebut. Langsung saja terpikir bahwa nanti alurnya maju mundur, biasanya kalau saya membuat cerpen, alur ini yang sering saya gunakan (favorit). Bahkan pada novel pertama saya (entah ini diterima penerbit mana, soalnya udah ditolak berkali-kali ; Aku, Kamu, dan Diary) juga menggunakan alur tersebut.






Berhubung emak-emak dengan sejuta aktivitas (bohong banget, padahal sukanya BBM-an :D) maka saya pun baru bisa membaca tepat pada jam 7 malam, setelah salat Isya dan si kecil pun asyik menonton televisi (baru satu bulan saya mempunyai televisi, itu pun di komputer, agar tidak rebutan dengan si kecil saat saya online di lepi). Ini buku paling tebal yang saya punyai (selain Alquran pastinya), jadi agak sedikit malas membacanya (jujur banget sih). :p

Baca Selengkapnya

Resensi Buku - Jangan Bercerai Bunda - Asma Nadia

Asma Nadia

Jujur saja, pertama kali membaca judul buku ini, saya merasa dipinggirkan. Kenapa harus Bunda yang tidak boleh bercerai? Apa karena wanita itu lemah dan mudah memaafkan? Kenapa Mbak Asma sekli-kali tidak membuat buku tentang ayah? Lagi-lagi Bunda. Padahal kebanyakan perceraian terjadi karena ayah. Kenapa selalu wanita yang dipojokkan? Well, untuk kali ini, saya tidak mendukung judul buku ini, tidak seperti judul-judul bukunya Mbak Asma lainnya. Boleh dibilang, saya kecewa karena buku itu seolah mencegah saya untuk mengajukan gugatan cerai.

Cerpen pertama dalam buku ini membuat saya tersenyum sinis. Benar bukan? Selalu wanita yang menjadi korban, lalu mereka akan menangis dengan penuh penyesalan. Mengapa kehidupan seperti itu harus terjadi pada mereka?







Namun, cerpen kedua dan ketiga membuat saya merenung, seperti inikah dampak dari perceraian? Seorang anak yang merindukan ayahnya dan sang ibu yang berubah. Apa saya sanggup menjalani perubahan demi perubahan yang terjadi jika saya bercerai nanti? Rasanya seperti ada yang menohok ulu hati saya. Siapkah saya bercerai? Siapkah kehilangan semuanya? Bukankah memang seharusnya saya bisa lebih tegar dalam menjalani perahu di lautan ini.

Baca Selengkapnya

Resensi Buku Cinta Tak Kan Salah



Cinta Kenapa sih bukunya Mitha melulu yang diresensi? Karena saya ngefans dia. Anak ECA yang sekarang udah menghasilkan banyak novel. Hahaha, siapa tau juga dikasih buku gratis lagi ma dia. (Ngarep pake banget :P)




Buku "Cinta tak kan Salah" karya Mitha Juniar ini saya dapatkan gretongan, alias gratis dari penulis. Plus tanda tangan dan kata-kata indah buat saya. Saya termasuk salah satu orang yang suka koleksi buku ber-TTD penulisnya, kenapa? Karena jika suatu saat penulisnya beken (banget), saya bisa sombong ke temen-temen kalo punya buku spesial. Hehehe.

Baca Selengkapnya

Resensi Buku - Sebenarnya Tuhan Sangat Sayang

mitha juniar
Mata merem melek ngeliat buku karya salah satu teman saya, baru nyadar kalau novel itu sudah lama nangkring di rak buku. Jangan heran, banyak buku yang saya beli, tapi belum sempat saya baca karena kesibukan yang tidak bisa ditinggal. Namun sekali baca novel, maka mata saya tak akan lepas dari tulisan yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah karya Mitha Juniar, teman sekaligus partner yang dulu pernah aktif di ECA.
Setelah suami mengantar Asma ke sekolah, saya bergegas mencari PW (posisi wenak) untuk membaca. Apalagi setelah ada tempat baca dengan rak kecil di ruang tamu, berasa ada di perpustakaan paling indah sedunia. :)


Bret! Sampul palstik saya buka. Bukunya memang masih kinyis-kinyis dan bersegel, padahal belinya sudah bulan kemarin. Covernya yang timbul dan gambarnya yang adem membuat mata tak lepas dari bukunya. Padahal tuh, saya udah wanti-wanti pesan ke penulisnya, dulu pas buku "Karena Aku Cinta" terbit minta plus tanda tangan. Hehehe.

Resensi Buku " 5 Menit Pakai Pashmina Tanpa Peniti"


Pashmina, siapa sih yang tak mengenal kerudung model ini. Apalagi para hijabers yang suka bergaya anggun dan dinamis, pasti tahu. Kerudung yang identik dengan peniti dan bros ini selalu menjadi incaran hijabers muda. Harganya yang murah dan model yang beragam membuat kerudung ini makin digemari. Tak salah jika akhirnya Teh Ocha dan Teh Indari membuat buku ini.

Xixixi, sok kenal banget sama dua teteh ini. Soalnya keduanya adalah orang-orang yang menggawangi grup IIDN dan IIDB yang bermarkas di Bandung dan sedang cetar membahana. ;) Salam kenal, ya, Teh.


Buku ini saya dapatkan dari sahabat saya, Mbak Nunu El Fasa. Salah satu penulis aktif yang sekarang sepertinya juga merambah ke dunia bisnis. Bahkan dengar-dengar, karya single pertamanya telah dipinang oleh penerbit.

Baca Selengkapnya 

Resensi Buku Almost Twilight


Jika dibilang saya kutu buku, mungkin bisa jadi. Namun, saya tetap memikirkan bagaimana cara membeli buku agar lebih murah dari harga normal. Yup, salah satunya adalah membeli di acara bazar. Bukan karena pelit, tapi karena itu hukum ekonomi. Hehehe.

Apalagi saya adalah orang yang mudah sekali bosan. Jika sudah membaca sebuah buku, maka akan malas melihat film buku tersebut (jika buku itu difilmkan). Begitu juga sebaliknya. Jarang sekali saya membaca 1 buku sampai 3x. Bisa dibilang 1 buku cuma sekali, paling mentok 2x.

Kecuali untuk komik. Nah, akhirnya saya membeli buku ini karena penasaran dengan isinya. Saya sangat menyukai buku-buku fantasy daripada teenlit, ya, tapi tetap saja saya tak tertarik dengan buku "Twilight". Alasannya hanya 1, saya pernah menonton filmnya. Berbeda dengan buku ini.


 Buku ini menceritakan seorang anak perempuan (Enola) yang masuk dalam dunia vampir. Yup, dunia siapa lagi kalau bukan si ganteng Jacob dan Bella. Ceritanya yang dipadupadankan seolah nyata. Benar-benar ada.

Baca Selangkapnya