Latest News

Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Pendidikan Anak Terlalu Dini


Guru saya di Jogja, Ustadz Fauzil Adhim pernah menulis sebuah penelitian. Ada anak ajaib asal China bernama Zhang Xinyang, yang sempat menghebohkan karena usia 2,5 tahun sudah menguasai 2000 abjad China yang rumit itu, masuk perguruan tinggi usia 10 tahun dan meraih gelar Ph.D. pada usia 16

Sebelum Zhang Xinyang ada juga William James Sidis atau akrab dengan panggilan Billy Sidis, anak dari Professor Boris Sidis yang diberi perlakuan khusus sesuai pendekatan behaviorisme ala William James. Prof. Boris sendiri memang pengagum berat William James, tokoh psikologi behaviorisme.

Apakah anak-anak luar biasa ini bisa dikatakan hebat? Ternyata justru hasilnya miris. Billy Sidis yang “secemerlang” Zhang dan berakhir mengenaskan karena secara mental sangat menderita. Sebagaimana Prof. Boris, orangtua Zhang juga sangat terobsesi dengan bakat anak sehingga ia hanya fokus mengembangkan bakat. 


Ia memiliki 𝗱𝗮𝗳𝘁𝗮𝗿 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗸𝘀𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗹𝗮𝗸𝘂 (𝙗𝙚𝙝𝙖𝙫𝙞𝙤𝙧𝙘𝙝𝙚𝙘𝙠𝙡𝙞𝙨𝙩) sangat ketat yang harus dipenuhi anak. Sangat khas pendekatan behaviorisme. Ia lupa (𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶) bahwa usia sebelum mumayyiz seharusnya fokus kepada mengembangkan kebaikan-kebaikan pada diri anak. Bukan tergesa-gesa mengembangkan bakat anak.

12 tahun setelah Zhang meraih gelar doktor termuda dalam sejarah China, ia memilih hanya duduk-duduk sepanjang hari. Zhang mengatakan, “Duduk diam dan tidak melakukan apa pun adalah kunci kebahagiaan seumur hidup.” Zhang juga menuntut orangtuanya untuk memenuhi segala keinginannya dengan mengirimi uang. Ia menganggap orangtuanya bertanggung-jawab terhadap kehampaan jiwa yang ia rasakan saat ini.

Billy Sidis dan Zhang Xinyang sudah memberi contoh. Dan apakah kita sebagai orang tua ingin menjadi obsesif dan egois, sehingga mau mengorbankan anak Anda sebagai contoh berikutnya dengan sibuk mengembangkan bakat sebelum mengembangkan kebaikan-kebaikan pada dirinya? Padahal kebaikan itu baru bisa kita kembangkan apabila kita telah mengenyangkan kebutuhan psikologis dan emosional anak.



Pendidikan di masa dini di negara kita, banyak orang tua yang menggegas anak anaknya agar hebat di usia BALITA. Dimasukan PAUD atau play group untuk belajar CALISTUNG (Baca Tulis Hitung) sehingga ketika orang tua mendapati anaknya yang usia 5 tahun sudah bisa membaca mereka langsung teriak “Anakku keren, kecil kecil udah bisa baca!” Lalu ia ceritakan kemana mana kehebatan anaknya yang sudah bisa membaca di usia dini. 


Namun orang tua tak menyadari, bahwa anak anak yang dipaksa bisa membaca sejak PAUD kelak akan tercederai fitrah belajarnya sehingga kelak di usia 10 – 12 tahun hypocampus otaknya mulai meredup dan jadi malas belajar dan malas membaca seumur hidupnya. 


Ada juga orang tua yang shalih dan ingin anaknya juga menjadi shalih, maka karena kurangnya ilmu dalam Tarbiyatul Aulad, maka mereka mengajarkan fitrah keimanan yang keliru dengan mengajarkan sholat terlalu dini, memasukan anak anak mereka ke TPA atau rumah tahfidz yang mulai menjamur dimana mana saat ini agar anak anak BALITA ini bisa membaca dan menghafalkan quran sejak dini. 


Ditambah lagi dengan kompetisi PILDACIL dan Hafidz Cilik di salah satu stasiun televisi yang membuat orang tua berlomba lomba mendaftarkan anaknya agar menjadi juara sehingga orang tua menjadi bangga. Padahal kami pernah menangani kasus, anak yang dulunya juara PILDACIL namun sekarang ini terlibat homoseks di pondoknya. Ayat Al Quran dan hadits sama sekali tak terbekas di hatinya, karena ketika ceramah ia hafal ayat Al Quran dan hadits hanya sekedar di mulut dan kerongkongan. Tidak masuk ke hatinya. 


Padahal Rasulullah sudah menganjurkan, “ajarkanlah sholat anakmu sejak usia 7 tahun”, bukan sejak dini. Sehingga banyak anak anak yang pintar membaca dan bahkan menghafal quran sejak dini, bukan malah bertumbuh fitrah keimananya tapi malah tercederai. Hingga ada kasus, dimana anak usia 7 tahun ketika mau masuk SD sudah mewanti wanti ibunya, untuk tidak memilihkan sekolah yang ada pelajaran tahfidznya karena ia sudah bosan sejak BALITA sudah dipaksa menghafal quran.


Bukan tidak boleh anak di bawah 7 tahun diajarkan mengaji dan menghafal Al Quran, tapi ada waktunya. Allah menciptakan otak kita bertahap pertumbuhannya, sehingga fungsinya bisa dioptimalkan juga masa demi masa. Tidak langsung semua bisa dioptimalkan. Sehingga bukan berarti kita ingkar dan melarang mengajari anak tentang kitab suciNya. 


Semua itu ada waktunya. Sebagaimana kisah kepompong yang berproses menjadi kupu-kupu, tapi karena kita tak sabar ingin segera melihat kupu-kupu yang indah, lalu kita bantu kepompong itu dengan memotong kulitnya agar cepat menjadi kupu-kupu. Namun nyatanya, kupu-kupu itu malah tidak bisa terbang. 


Dalam Al Quran dikatakan, “Wal Asri” yang artinya “Demi Masa”. Maka arti demi masa itu bisa dimulai dari 1 tahun, bisa 7 tahun, bisa 40 tahun. Semua usia ini adalah masa, dan setiap masa perlakuannya berbeda. Jika dipaksakan sebelum waktunya sehingga menyalahi fitrah mereka, maka pasti akan ada penyimpangan yang terjadi. 


Karena kaidah *“LEBIH CEPAT, LEBIH BAIK”,* bukan pada tempatnya untuk digunakan dalam mendidik anak anak kita.


Oleh : Igo Chaniago

*Founder Fatherhood Community

#FatherhoodCommunity #AyahPendidikPeradaban #HomeBasedEducation

Razia RM Padang, Menepuk Air di Dulang Terpercik Wajah Sendiri

 


Jakarta, 30 Oktober 2024 - Beberapa hari ini dunia maya diramaikan oleh berita tentang sekelompok orang yang marah marah dan mencopot stiker "Masakan Padang" di sebuah RM kecil di Cirebon. Mereka yang mengatasnamakan Perkumpulan RM Padang Cirebon ini beralasan bahwa RM Bintang Minang tersebut menjual dengan harga terlalu murah namun mengusung nama Masakan Padang yang berpotensi merusak "marwah" masakan Padang.


Tindakan Razia ini sebenarnya menurut hemat saya merupakan bentuk kontraproduktif atas sebuah persaingan bisnis. Tindakan merazia ataupun menegur siapapun yang berjualan tanpa kapasitas yang cukup hanya akan mendatangkan konflik horizontal yang tidak diperlukan bagi anak keturunan Minangkabau dimanapun berada.


Tindakan yang sembrono ini apapun alasannya dapat mengundang stigma negatif dari banyak pihak kepada perantau Minang dimanapun berada. Apalagi di jaman digital dengan arus berita yang sangat cepat, mudah sekali mengundang salah paham dan sangat berpotensi dipelintir.


Kondisi ekonomi bangsa sejak pandemi yang tidak begitu baik membuat banyak pihak mencoba berinovasi menjual makanan dengan tema yang populer. Apalagi jikalau bukan "Masakan Padang" masakan jutaan ummat dengan rasa yang mudah diterima oleh berbagai pihak, suku bangsa, ras dan agama. Rasanya yang gurih dan penyajiannya yang cepat menjadi jawaban paduan rasa yang baik dan penyajian yang tak lama. Tak perlu berlama lama hanya sekejap sampailah pesanan di depan mata, harga bervariasi dan rasa juga berbeda beda.



Lahirlah RM Padang Murah, memang benar benar murah dan tidak hanya menyebar di seluruh Indonesia. Di ranah minang sendiri banyak juga orang Minang berjualan murah meriah, 10rb-16 rb masih termasuk murah. Sementara rumah makan sedang dan besar menjual di harga 18-25++, ada harga ada rupa pastinya.


Episode Razia RM Padang ini berhasil dipelintir beberapa pihak sebagai sebuah Razia terhadap Orang non Minang dilarang berjualan Nasi Padang, namun menurut berita yang ada, razia yang mereka lakukan lebih karena faktor harga terlalu murah yang menyebabkan hancurnya rm padang lainnya yang menjual diatas harga itu. Semisal harga 8rb disaat yang lain tak mampu menjual di harga semurah itu, akhirnya terjadi konflik karena kondisi pasar juga tak baik baik saja akhir akhir ini.


Kita harus adil sejak dalam pikiran pastinya, Razia itu tidak dibolehkan, apapun alasannya karena hanya akan mengundang hal hal negatih yang tidak pada tempatnya. Masakan Padang sudah menjadi masakan Indonesia yang begitu mudah ditemui hampir di seluruh tempat di Indonesia dan bahkan luar Indonesia.


Dalam hukum ekonomi l, murah tentu akan mengurangi banyak fitur dalam sebuah layanan bisnis, harga yang semakin tinggi tentu harapan konsumen juga akan semakin besar akan sebuah layanan, kualitas dan rasa dari sebuah produk. Nasi Padang menjelma dalam banyak lapisan pangsa pasar bahkan di ranah minang sendiri.


Di ranah minang ada banyak suku bangsa menjual masakan Padang walau tidak melabeli diri sebagai RM Padang sebagaimana yang jamak terjadi di luar ranah minang. RM Bahagia di Padang yang masakannya juga lezat dimiliki oleh saudara Tionghoa Padang, didapurnya tentu ada orang Padang juga yang berkerja saling bahu membahu menyajikan sajian terbaik.


Ada juga RM Pagi Sore Padang di daerah Pondok kota Padang dimiliki oleh Alm Bapak H Benny Pusaka seorang Tionghoa Padang yang mempunyai istri orang Minang yakni Ibu Rostina yang mana usaha ini dilanjutkan oleh istri dan anak anak beliau hingga saat ini, RM Pagi Sore Padang ini terkenal sekali dengan ayam goreng panas panas nan legendaris. Harga bervariasi mulai dari 20-35 rb dan tidak bermain di pangsa pasar Padang Murah tentunya.

Di level nasional ada Ko Marco seorang Tionghoa Kota Padang dengan nama Marco Padang, mengusung tema Padang Peranakan dengan pangsa pasar menengah keatas. Aman dan tentram puluhan tahun berjualan nasi Padang bahkan di ranah minang dan rantau sekalipun. Hal ini sekaligus membantah opini beberapa pihak bahwa ada larangan orang yang bukan bersukukan Minang dilarang berjualan RM Padang.


Kembali kita membahas Padang Murah, genre Padang Murah ini di Kota Padang sendiri tersebar biasanya di daerah yang dihuni oleh mahasiswa. Ukuran lauk yang berbeda pastinya dengan RM Padang besar, rasa juga berbeda dan tak bisa juga disama samakan. Masing masing tangan beda rasa beda cara olahnya, namun karena dijual murah pastinya mereka akan sangat efisien dalam menggunakan bumbu, agar ada untung yang baik dalam berdagang.


Kejadian Razia RM Padang ini juga harus diambil menjadi bagian Otokritik ke dalam pedagang nasi padang yang dari Minang itu sendiri, semakin murah tentu semakin luas ceruk pasar. Pasar yang tidak mengandalkan rasa yang authentik, yang penting kenyang, murah dan banyak. Tapi tentu ada resiko tersendiri bermain di pangsa pasar ini, jika tak habis bisa jadi buntung daripada untung. Idealisme masakan padang yang baik tentu gunakan sekitar 10% saja, tak perlu banyak banyak, karena sudah pasti tak akan untung kalau menggunakan konsep Masakan Padang yang baik seperti yang diajarkan leluhur kita.

Andaikan bermain di level ini, berstiker Masakan Asli Padang/Minang pun dengan harga murah, jika suatu saat ada orang Minang makan pastilah dia paham juga, ada rasa ada rupa. Maka label asli padang pun hanya akan menjadi penanda bahwa yang memasak memang asli padang, tapi belum tentu memasak seperti leluhur Minang memasak. Sebagai contoh memasak rendang, lazimnya menggunakan kelapa tua 4-5 butir per 1 kg daging, dimasak lama bisa lebih dari 5 jam dan dimasak tanpa menumis karena minyak dari kelapa sudah pasti banyak. Di sisi lain amsyong pastinya walau asli padang, apa iya dengan jualan harga murah akan mampu memakai standar yang baik dalam melahirkan masakan Padang yang baik dan nikmat seperti yang biasa dimasak amak amak, inyiak inyiak rang minang lamo. Pertanyaan ini kita renungkan jawabannya sama sama, sehingga akhirnya kita sendiri bisa menyadari "Razia" ini tak berguna, walau dengan alasan "Padang Murah" karena orang minang sendiri banyak yang berjualan Murah Meriah walau akhirnya banyak yang almarhum rumah makannya, tapi mereka ada dan yang sukses juga ada.


Lisensi RM Padang yang akan dan sudah dilakukan oleh Ikatan Ikatan Keluarga Minangkabau juga bukan hal sederhana, mungkin bisa menjadi penanda bahwa benar ini dimiliki anggota keluarga Komunitas Minang, tentunya harapan orang bahwa ketika stiker lisensi ini dipampang, rasa dan kualitas masakan benar benar mereka nanti tentunya mereka berharap lebih lezat dan nikmat, jangan sampai malu pada lisensi. Ketika orang makan ternyata rasanya tak jauh berbeda daripada rm yang berlabel Padang Murah. Sungguh sebuah Otokritik mendalam pada diri para pedagang itu sendiri dimanapun berada.


Tak mudah memberikan sebuah standarisasi masakan Padang yang baik dan benar ataupun authentik, namun jalan menuju standarisasi yang baik itu perlu dititi. Banyak orang minang, Minang karena keturunan. Tapi belum tentu mengusung nilai adat budaya Minangkabau sejati. Belum tentu juga banyak belajar kepada orang tua tua lama tentang cara memasak Masakan Padang yang baik.


Sebagai contoh ada satu masakan Padang yakni Ikan Cuko, dari 20 orang padang belum tentu ada satu yang bisa memasaknya dengan baik dan benar.

Ada banyak khazanah masakan padang yang luar biasa dan saya pun masih belajar hingga hari ini.


Air beriak tanda tak dalam, riak riak Razia itu hanyalah sebuah tanda bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari oleh Perkumpulan RM Padang Rantau yang mengusung harga dibawah 20. Tak hanya soal rasa, tapi juga soal manajemen bisnis dan juga efisiensi bahan. Tak cukup pandai masak saja untuk berjualan Nasi Padang baik murah maupun mahal pastinya, ada banyak fitur dalam mengusung sebuah usaha. Kadang perlu waktu untuk belajar dan memahaminya, disisi ini Lisensi sebenarnya adalah upaya yang baik untuk upgrade RM Padang agar mengusung rasa yang baik, belajar manajemen bisnis yang baik dimotori oleh Ikatan Ikatan Keluarga Minang, agar anak kemenakan yang berada di rantau bisa sukses hendaknya membawa nama harum orang minang dimanapun berada.


Akhir kata, pagi para perantau pahami baik baik bahwa kita membawa nama baik leluhur. Sikap dan tindakan haruslah berhati hati dan pandai pandai membawa diri. Jangan lupakan arti sebuah pepatah berikut ini, Rantau Sakti Lautan Bertuah. Jika lupa artinya silahkan dicari di google, di "inok inok i artinya baik baik".


Salam Hangat

Uda Dian Anugrah 

Minangkabau Cuisine Specialty Chef 



Tips Membangun Rasa Percaya Diri

 


Tips Membangun Rasa Percaya Diri – Rasa percaya diri sangat penting dimiliki oleh setiap orang, tapi faktanya tingkat kepercayaan diri setiap orang berbed-beda. Bahkan nggaj jarang juga orang bisa mengalami krisis kepercayaan diri, menjadi takut dan malu untuk melakukan atau bahkan hanya sekedar menjumpai sesuatu. Apakah kita salah satunya? Bisa jadi, kadang nggak sadar kalau pernah mengalami hal ini. Lalu bagaimana menangainya?

Sebelum saya membagi tips membangun rasa percaya diri untuk teman-teman alangkah baiknya kita mengenali dulu faktor-faktor yang menyebabkan rasa tidak percaya diri itu muncul. Dengan begitu kita nggak akan salah memilih cara untuk mengatasinya. Berikut ini cara tips membangun rasa percaya diri berdasarkan faktor penyebabnya.

1. Penampilan

Pertama adalah faktor penampilan. Nggak bisa dipungkiri kalau sedikit banyak kita ingin tampil oke di hadapan orang lain. Penampilan yang kita anggap nggak nyaman atau kurang sempurna bisa menimbulkan rasa malu pada diri kita. Malu bertemu orang lain dengan kondisi penampilan yang “nggak oke”, apalagi kalau orang itu adalah orang istimewa. Tentunya kita ingin menunjukkan sisi terbaik dari diri kita di depan orang itu, terutama bagi perempuan penampilan adalah salah satu sisi penting meskipun bukan yang terpenting.

Kawan, kita nggak bisa memanjakan setiap mata dengan penampilan fisik kita yang sempurna, tapi merawat fisik juga termasuk salah satu cara bersyukur atas ciptaan-Nya bukan. Jadi sudah seharusnya kita merawatnya dengan baik, mempunyai fisik yang ideal juga bisa mendorong kita untuk lebih percaya diri tampil di depan umum. Misalnya kita merasa tinggi badan kurang, kita bisa mencoba mengatasinya dengan cara ini 3 faktor yang mempengaruhi tinggi badan


2. Kemampuan Diri

Kedua adalah kemampuan yang kita miliki. Ada kalanya kita berpikir “aku bisa apa ya?”, “ah dia lebih pinter dari aku deh kayanya”, atau mungkin juga “aku nggak ada apa-apanya dibanding dia mending aku mundur, dan beberapa pemikiran lainnya.

Halo halo.. Kita punya kemampuan masing-masing yang berbeda. Kita jago di bidang kita masing-masing, jadi kurangi menganggap rendah diri sendiri ya. Kalau kita merasa kemampuan kita masih kurang ya solusinya diasah lagi kemampuan yang kurang itu, bukan menganggap rendah diri sendiri. Misalnya kita merasa public speaking kurang bagus, kita harus asah kemampuan itu. Misalnya dengan belajar berbicara di depan cermin, latihan bersama teman, atau tips untuk meningkatkan kemampuan public speaking

Percaya diri itu penting lho, percaya diri adalah wujud bahwa kita menghargai dan mencintai diri sendiri. Kalau ada punya tips yang lain jangan lupa share di kolom komentar ya, mari berbagi untuk meningkatkan rasa percaya diri.

Gak Apa-Apa Bayar Mahal






Setiap orang selalu mikir bagaimana agar mendapat harga murah dengan kualitas terbaik untuk membeli barang apa pun. Ya, itu kan emang hukum ekonomi. Termasuk saya adalah salah satunya.
Namun, ada saatnya saya tidak menawar harga di saat membeli di pasar tradisional. Hitung-hitung untuk membantu para penjual di pasar yang memang membutuhkan uang. Apalagi jika yang menjual adalah orang tua, mau mawar itu rasanya gak tega.

Buat saya sih gak apa-apa bayar sedikit mahal. Toh masih lebih murah jika saya beli ke supermarket. ( Padahal jarang banget ke supermarket. Wkekwke )

Namun saya juga sering melihat ada orang yang menawar harga sampai kebangetan pada penjual yang sudah tua. Kangkung aja ditawar 1000 dapat 2 ikat, padahal harganya 800 rupiah. Satu ikat bisa jadi menu sekali makan sekeluarga. Beda dengan beli matang di restoran dengan harga 5000 per porsi. Dengan mudahnya bilang, "Gak apa-apa bayar mahal untuk seporsi kangkung. Wong cuma lima ribu."

Bayangkan saja, jika saya pergi ke Indo****t atau sejenisnya, tanpa menawar harga pun langsung ambil barang dan membayar di kasir. Padahal kita sama-sama tahu jika harga di sana biasanya lebih mahal. Saya pernah lho liat jajan yang di toko biasanya seharga 500 rupiah, tapi si sana itu harganya 2.000. Ya maklumin aja, kan emang bayar tempatnya juga mahal. Gak apa-apa bayar mahal. Walaupun akhirnya saya tak jadi beli. Hihihi.

Tanpa sadar, kita menjadi maklum membayar mahal karena layanan tempat dan pelayanan yang diberikan karyawan kepada kita. Senang dong kalau dilayani dengan baik? Petugasnya ramah dan juga cakep-cakep. Apalagi tidak perlu panas-panaskan untuk membeli, bisa pilih-pilih barang dan langsung memasukkan ke keranjang belanja. Sangat jauh berbeda dengan di pasar tradisional.

Hal ini juga berlaku pada tukang parkir.

Saya bisa marah-marah jika ditarik 1500-2000 untuk sekali parkir. Padahal biasanya parkir hanya seribu. Kenapa saya marah? Alasannya simple, sepeda motor saya parkir sendiri, dikeluarkan dari tempat parkir juga sendiri, menyeberang sendiri. Orangnya pun sama sekali gak ramah, senyum aja enggak. Lha tugasnya petugas parkir apa??? Cuma prit, terus minta uang dan pergi.

Beda kalau petugasnya ramah, murah senyum, dan membantu saya untuk memasukkan maupun mengeluarkan motor, tak lupa juga menyeberangkan saya. Tanpa diminta pun, saya akan memberi 2.000. Kadang malah sama tukang parkirnya gak boleh bayar karena terlalu sering ngasih lebih. Buat saya, gak apa-apa bayar mahal untuk pelayanan terbaik.


Metode ini pula yang saya terapkan untuk AE Publishing, penerbitan yang tengah saya rintis. Alhamdulillah banyak pelanggan yang balik lagi, bahkan sampai memberi ongkir lebih dari yang semestinya. Walaupun banyak yang bilang kalau paket penerbitan di AE Publishing itu mahal.

Bagaimana tidak mahal? Di penerbit lain saja ada yang 250-500k untuk layanan lengkap, di AE malah 700k untuk layanan lengkap. Banyak sih penulis pemula yang pilih penerbit murah untuk menerbitkan buku mereka, tapi tak sedikit pula yang akhirnya curhat ke saya dengan pelayanan dan fasilitas yang diberikan oleh penerbit tersebut. (Baca selengkapnya)




Surat Terbuka untuk Afi Nihaya Faradisa









Anisa AE - Dear Dik Afi Nihaya Faradisa.

Sebelumnya perkenalkan, nama saya Anisa. Saya bukan siapa-siapa, hanya seorang ibu yang berusaha berjuang untuk anak-anaknya. 

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah tulisan di FB Dik Afi soal warisan yang saat itu dibagikan oleh teman FB saya yang lain. Entah kenapa saat itu saya tidak tertarik untuk share juga. Apalagi saat saya membaca komentar-komentar di dalamnya yang sudah ribuan dan dibagikan oleh ribuan orang juga.
Saya membaca tulisan itu dengan banyak kernyitan. Well, mungkin saya lebih suka tulisan pendek yang langsung ke poinnya daripada yang panjang, tapi banyak menimbulkan tanda tanya. 

Dik Afi, sayang.

Saya tak punya televisi, jarang membaca koran. Tak tahu setenar apa Dik Afi di luar sana karena status soal warisan tersebut. Saya pun sudah hampir lupa dengan status tersebut, sampai akhirnya mencuat  lagi saat ini.

Namun kali ini berbeda. Banyak sekali hujatan yang ditujukan padamu soal status itu. Iya, status soal warisan yang sempat saya baca tersebut. Kau pun mulai terkenal sebagai plagiator di kalangan teman-teman facebook saya.





Awalnya saya tak peduli. 

Sampai akhirnya saya bosan dengan banyaknya status yang sangat sering berseliweran. Bahkan sampai namamu pun diartikan bermacam-macam. Saya kasihan padamu, pada orang tuamu, khususnya ibumu. Saya juga seorang ibu, pernah merasakan bagaimana anak saya dibully orang. Sakit dan hati rasanya teriris. (Baca selengkapnya)

Teman, Iman Lebih Penting Dari Uang






Anisa AE - Saya kaget bercampur ngeri dalam waktu satu minggu ini. Bagaimana tidak? Tetangga jarak dua rumah di sebelah kiri wafat. Disusul oleh tetangga jarak dua rumah di sebelah kanan. Rumah saya berada di tengah-tengah antara rumah duka. Berasa mati itu tinggal menunggu waktu dan tak bisa disemayani.

Apalagi sore tadi ketika sebuah foto diunggah di facebook. Foto seorang lelaki yang sangat tak asing dalam hidup saya, bahkan beberapa kali sempat ada cerita tentangnya di blog ini. Foto yang membuat hati saya menangis miris.

Beberapa tahun yang lalu saya mengenalnya. Sosoknya yang supel, baik hati, pintar, dan punya segudang ide yang bisa menarik orang lain. Ah, saya tidak hanya mengenal satu orang, tapi dua orang yang ke mana-mana selalu bersama, salah satunya saya sebut Arek Ganteng. Bahkan kami sempat melakukan bisnis kecil-kecilan yang melibatkan investor TKW dan polwan.

Sayangnya bisnis tersebut tidak berjalan dengan semestinya. Banyak sekali kendala yang menjadikan saya akhirnya mundur teratur dan mengembalikan semua uang milik investor. Padahal saat itu kami sudah memiliki beberapa pelanggan tetap yang sampai saat ini terus menanyakan produk yang tidak lagi diproduksi tersebut.

Sampai akhirnya, ayah dari Arek Ganteng wafat. Dia kembali ke kampung halaman untuk menemani ibunya dan merintis bisnisnya dari nol.



Sementara teman saya yang satunya, tidak tahu entah ke mana, walaupun rumahnya dekat dengan suami saya. Seluruh kontaknya sudah tidak bisa dihubungi lagi, padahal kami harus menyelesaikan beberapa hal. Sampai akhirnya saya lelah dan mengikhlaskan semuanya. (Baca selengkapnya)

Anak-Anak yang Kelaparan Karena Indomie







Anisa AE - Sebelum banyaknya merk mie instan saat ini, Indomie adalah merk mie yang paling booming. Namun, banyak yang menganggap mie instan adalah makanan murah, mudah, dan tidak sehat jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Ya, bisa juga karena pembuatannya yang memakan tidak lama, tidak sampai 10 menit. Termasuk merk Indomie tersebut.

Ada anak-anak kelaparan yang menunggu sisa makanan dari orang lain, lebih tepatnya menunggu orang lain selesai makan untuk bisa merasakan Indomie tersebut. Siapa yang tak kenal dengan Indomie? Sponsornya di layar kaca saja sudah bisa membuat seseorang meneteskan air liur, apalagi jika mendengan jingle musiknya, semua pasti tahu mie apa yang dimaksud.

Saat itu, yang kelaparan adalah saya dan saudara, kami menunggu di balik pintu kamar, menunggu tamu selesai makan dan bisa merasakan nikmatnya Indomie.

Alm Abah selalu mengajarkan kami untuk memuliakan tamu. Walaupun kami hanya makan dengan garam, tamu harus makan dengan tempe. Ya, begitulah kehidupan di keluarga kami. Walaupun mie itu hanya makanan biasa bagi sebagian orang, tapi tidak bagi kami. Mie dan telur dadar adalah makanan istimewa yang terhidang untuk para tamu sebagai lauk.





Saya dan kakak selalu menunggu di balik pintu kamar, sambil menikmati aroma yang tercium dari asap Indomie yang selalu diberi irisan cabai oleh Ibu tersebut. Kami berbincang bagaimana rasanya memakan mie itu sambil menyesapnya perlahan seperti di TV. Kami tertawa, lalu mengintip dari balik pintu, menunggu dan menunggu.

Ketika tamu selesai makan dan pindah ke ruang tamu, kami tetap tak boleh menyentuh makanan sisa itu. Tak ada yang boleh memakan apa pun di ruang tengah, sampai tamu tersebut pulang. Biasanya, saya dan kakak mengakalinya dengan membersihkan meja dan membawanya ke belakang. Ya, hanya di sana tempat kami bisa makan tanpa ketahuan tamu. (Baca selengkapnya)


Bukan Salah Kerudungnya




Anisa AE - Malam ini FB Komunitas Peduli Malang ASLI Malang ramai tentang satu postingan. Bukan, bukan karena AREMA yang bermain di Sleman, tapi karena sebuah foto yang diunggah oleh Mas Agung T. Wahyudi. (Saya pilih foto yang paling tidak jelas karena ada banyak foto yang jelas menunjukkan wajah mereka)

Bisa dilihat foto apa itu. Ini adalah hasil screnshot yang saya dapatkan dari grup tersebut. Miris memang. Di sore hari yang masih sangat terang, terlihat dua orang yang sedang berciuman di taman balaikota. Taman yang letaknya tepat di depan Balaikota Malang. Jika dari Stasiun Kota Baru Malang sudah terlihat tugu yang menjadi kebanggaan Kota Malang tersebut.

Semakin trenyuh ketika melihat komentar-komentar di bawahnya. Tak bisakah sedikit empati dengan hanya menyalahkan sifatnya? Bukan kerudung yang menjadi masalahnya. Apalagi sampai komentar yang tak pantas memakai kerudung dan suruh telanjang saja. Astagfirullah. Apakah para komentator ini merasa lebih alim dan merasa lebih baik dari para pelaku? Sampai-sampai menyuruh sang wanita telajang saja daripada berciuman di sana?







Dengan diunggahnya foto ini di sosmed, itu sudah membuat mental mereka down. Bahkan bisa jadi mempermalukan seumur hidup. Lantas, masihkah kita tambah dengan hinaan? Masihkah kita tambah dengan perkataan yang menjatuhkan mereka dengan kasar?

Kelakuan mereka yang sangat jauh dari kaidah Islam, jangan disangkutpautkan dengan kerudung. Jelas kerudung dan sifat manusia itu berbeda. Memakai kerudung adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap wanita seperti yang tertera di dalam Al-Quran, sedangkan sifat adalah bawaan dari masing-masing manusia.






Jika ada seorang kyai yang mencabuli muridnya, apakah kita lantas menyalahkan agamanya? Menyalahkan Islam? Seperti itu pula pada kasus ini. Kita tak bisa menyalahkan kerudungnya, karena yang salah adalah perbuatannya. Tak ada hubungannya dengan kerudung yang termasuk dalam kategori wajib dipakai. Apa lantas jika yang berciuman seorang wanita tanpa berkerudung di tempat umum, kita biasa saja, menganggap semuanya wajar?  (Baca selengkapnya)




Reporter Adalah Pembunuh Nomor Satu




sumber maron
Sumber Maron Kasri

Anisa AE - "Hai Mbak Reporter! Sudah puaskah Anda menjadi seorang pembunuh? Apakah saya akan menjadi korban Anda kali ini?" tanyanya pada saya.

Saya tertohok. Benarkah saya adalah seorang pembunuh? Padahal apa yang saya tulis sebagai blogger/reporter adalah realita. Mempromosikan suatu tempat wisata baru yang alami dengan narsis di sana agar semakin ramai. Misalnya saja Sumber Maron, salah satu sumber di Kecamatan Pagelaran yang saat ini menjadi tempat wisata edukasi.

Tiba-tiba mata saya berkaca-kaca. Ya, saya adalah seorang pembunuh. Dengan pekerjaan yang saat ini menjadi reporter dan sering mengulas tempat wisata, saya sering kali mempromosikan suatu tempat dengan sangat bagus. Saking terlalu fokus pada promosi, saya sampai lupa ada sesuatu yang perlu dijaga.






Alam, ya, alamlah yang menanyakan hal itu pada saya kemarin, di Sumber Joyo/Sumber Sirah, salah satu surga di dalam air. Banyak ganggang dan lumut di sana yang bisa digunakan untuk berfoto, seolah berada di laut dalam. Padahal dalamnya tak lebih dari 1,5 meter.

Sebenarnya saya sudah tahu tempat itu sejak lama, namun baru mengunjungi kemarin. Apalagi setelah dari Sumber Sirah, saya menuju ke Sumber Buntun di wilayah Urek-Urek (Gondanglegi) dan Sumber Maron di wilayah Kasri (Bululawang). Ya, mungkin karena orang-orang seperti saya pula tempat ini mulai terbengkalai. Belum lagi Sumber Taman di Pagelaran yang saat ini pengunjungnya bisa dihitung dengan jari.

Sumber Buntung, Urek-Urek


Malang memang penuh dengan kejutan, apalagi dengan banyaknya sumber-sumber yang mulai diekspos oleh media, namun kurang perhatian penduduk dan pemerintah. Jadi, setelah tempat itu kotor dan tidak layak, semua pengunjung pergi dan tak ada tindakan lebih lanjut untuk memperbaharuinya seperti di Sumber Maron Kasri dan Sumber Buntung. (Baca selengkapnya)

Lari Dari Malaikat Maut





Anisa AE  -  Apa yang akan terjadi ketika kamu belum siap menghadapi maut, tapi dia sudah datang? Bukan belum siap, karena tiap manusia tak akan siap bertemu dengannya, kecuali para kekasih-Nya. Itu yang terjadi pada saya tadi malam.

Singkat cerita, dosa saya terlalu banyak. Setiap hari ada saja dosa yang saya lakukan, mulai dari membunuh, mencuri, curang, ghibah, fitnah, dan lainnya. Betapa besar dosa saya, sampai tak mampu menghitungnya satu per satu.

Bagaimana tidak? Hampir setiap hari saya membunuh semut dan nyamuk. Mencurangi hak-hak orang lain dengan lupa memberikan 2,5% hak mereka yang ada pada saya. Mencuri waktu-Nya di tiap 5 waktu yang Dia wajibkan untik saya. Sering ghibah dan memfitnah orang lain dengan hati saya. Belum lagi yang tidak bisa amanah serta sering berbohong pada Ibu dan dan Asma.

Tadi malam, saya berlari dari malaikat maut. Berkejar-kejaran sampai lubang semut. Ya, itu yang terjadi selama 3x dalam semalam tadi. Bayangkan, saya harus berlari dari malaikat tersebut, sampai tak tahu harus ke mana lagi. Ya, walaupun saya tahu bahwa itu mimpi, tapi seolah nyata terjadi.

Hanya mimpi? Tidak hanya mimpi. Karena saya tahu itu mimpi, maka berusaha terjaga, agar memimpikan hal yang lain. Sekuat tenaga saya lakukan sesuatu untuk membangkitkan dunia nyata. Sukses. Terlihat jam dinding masih menunjukkan jam satu kurang sepuluh menit.

Karena masih mengantuk, saya tertidur lagi. Padahal niat tidak akan tidur sampai pagi. Di sana, di dalam mimpi, saya bertemu dengan malaikat maut lagi. Wajah yang hitam dan tubuhnya yang besar membuat saya berlari, lagi. Kejar-kejaran terjadi di antara kami, tapi kali ini saya langsung berusaha bangun.






Walau dengan susah payah, akhirnya saya bisa bangun. Itu pun juga sambil memekik, berusaha menyadarkan diri sendiri, minimal nanti dibangunkan adik atau Ibu. Sudah cukup mengerikan aksi kejar-kejaran yang pertama. (Baca selengkapnya)

Kerjasama Antar Penjual, Untung Banget





Anisa AE  -  Indahnya jika sesama penjual saling mendukung. Tidak rebutan pelanggan, apalagi jika menjual barang yang sama. Sakitnya tuh di sini, ketika diusir dari sebuah tempat lesehan, tapi pesan di penjual sebelahnya yang tempatnya sudah penuh.


Pernah mengalami juga? 

Okelah, di Kota Malang ada penjual makanan yang sangat akur. Mereka sampai menyewa lahan untuk dipakai bersama. Pemesan mau duduk di mana dan makan apa, itu terserah. Yang pasti, tidak ada adu mulut untuk menawarkan dagangan. Pembeli pun senang, bisa makan yang berbeda di satu tempat. Eh, sepertinya di Kepanjen juga ada.




Berbeda dengan penjual online. Sama-sama menjual produk, tapi saling menjatuhkan harga. Saling mengatakan bahwa produknya yang terbaik, juga paling murah. Duh, sedih. Padahal satu kota.

Bagaimana sih menyikapi hal seperti ini? Pinginnya sih akuuurrr terus. Sayang banget kalau pertemanan hancur hanya gara-gara dagangan.Kan udah kenal tuh, kenapa gak saling kerjasama? Kan gak semua barang harus ready stock, apalagi jika sampai kehabisan. Itu gunanya punya partner kerja. 

Umpama si A ready bedak dan masker, si B ready lotion dan obat, kenapa tidak digabungkan saja? Si A dan si B membuat satu toko online dengan isi bedak, masker, lotion, dan obat. Kalau ada yang beli masker ke B, ambilnya di A. Kalau ada yang beli obat di A, ambilnya di B. Tentu tetap dengan harga grosir. Kenapa? Perlu dicatat bahwa ini adalah kerjasama. Harganya pun disamakan. (Baca  selengkapnya)


3 Alasan Kenapa Istri Tidak Secantik Selingkuhan







Anisa AE - Banyak sekali perselingkuhan yang terjadi. Bahkan, perselingkuhan sudah terjadi sejak zaman dulu, bukan hanya saat ini saja. Kenapa suami selingkuh? Lelaki paling lemah di penglihatannya. Melihat wanita cantik atau tubuh yang aduhai, pasti melirik. Eits, walaupun melirik, bukan berarti suami selingkuh.

Lantas, kenapa para suami lebih memilih  selingkuhan yang lebih cantik daripada istri? Tentunya rugi kalau memilih selingkuhan yang kurang cantik dari istri. Buat apa selingkuh? Tapi berikut ini adalah alasan kenapa selingkuhan lebih cantik dari istri.

Baca Juga : Tips Agar Payudara Indah

1. Sering bertemu
Pertemuan yang intens dengan istri pasti  terasa membosankan. Apalagi jika setiap hari melihat istri sibuk di dapur dari pagi, cuci baju dikamar mandi, dan ngurusi anak dari mandi, ganti baju, sampai makannya. Bahkan tak sempat mengurusi diri sendiri. 

Beda dengan selingkuhan yang jarang bertemu, sekali ketemu di luar, dia sudah cantik. Jika istri ingin terlihat lebih cantik, berikan dia waktu pribadi untuk mengurus diri. Suami bisa membantu beberapa pekerjaan rumah tangga atau mengurus anak. Jika semua sudah selesai, maka istri akan mmenyiapkan dirinya agar tampil cantik. Istri mana yang tak ingin terlihat cantik di depan suami?

Baca Juga : Andai Aku Tidak Menikah Dengannya










2. Make up

Selingkuhan pasti dandan dulu sebelum ketemu dengan suami. Apa istri di rumah juga sudah dandan untuk suami? Suami jangan tutup mata soal make up untuk istri. Sekali-kali beli make up sama-sama, juga beli parfum yang suami suka. Ajak ke salon juga tak rugi, hitung-hitung menyenangkan istri. Toh kecantikan istri juga untuk suami. (Baca selengkapnya)

Andai Aku Tidak Menikah Dengannya



Anisa AE - Sebuah judul yang riskan. Padahal sudah sangat jelas bahwa hidup, mati, rezeki, dan jodoh itu ada di tangan Allah. Tapi, Nisa juga bingung. Di rumah saja, jodoh tak akan datang. Ke luar rumah pun, jodoh belum tentu datang.
Intinya, berusaha dan berdoa, karena jodoh tak mungkin datang dari langit jika tak berusaha mencari. Pun dengan rezeki, uang juga tak akan turun dari langit jika manusia tak bekerja. Dua hal yang sama-sama harus diusahakan. Well, mati juga. Orang sakit, tak boleh menunggu mati, tapi harus berusaha sembuh dengan mencari obat. Ya, walaupun harus operasi, setidaknya sudah berusaha. Baca Juga : Jangan Panggil Jilboobs! Mereka Juga Muslimah
Ngomong-ngomong soal jodoh dan menikah, tidak ada satu pasangan pun yang menginginkan berpisah. TIDAK ADA SATU PUN. Semua pasti menginginkan sebuah keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Bahkan saat menikah pun, banyak sekali yang mendoakan hal itu. Namun, kenapa banyak yang menyesal menikah?
Menyesal telah menikah? Hm, bagi Nisa, itu hal yang tak patut untuk disesali. Kenapa? Karena sebuah ikatan pernikahan itu sangat suci dan sakral. Untuk cerai dan talak pun ada banyak yang harus dijalani, sebab-sebab sebelum akhirnya pengadilan memutuskan untuk bercerai. Pun jika mau rujuk.
Namun, jika penyesalan itu datang, apa yang harus dilakukan?
1. Intropeksi :
Cari tahu apa kekurangan diri hingga perceraian itu terjadi. Jangan hanya menyalahkan pasangan, kita tak akan tahu apa yang dikeluhkan pasangan tentang kita pada orang lain. Kalau Nisa pikir sih, emang gajah di pelupuk mata tak pernah tampak. :)



2. Cari akarnya :
Sebuah masalah, apalagi perpisahan, pasti ada sumber masalahnya. Jangan diingat-ingat mesrah-mesrahnya aja. Pas makan bareng, mandi bareng, ke mana-mana bareng, bahkan tidur bareng. Itu bukan akar, tapi bunga dan buah yang ada di dalam pernikahan. Cari akar busuk di dalam tanah yang tersembunyi. Akar yang mengakibatkan pohon besar (keluarga) bisa tumbang. Baca Juga : 3 Alasan Kenapa Istri Tidak Secantik Selingkuhan (Baca selengkapnya)

Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi ( ... dan Kembali)


Anisa - Inilah salah satu cerpen Mbak Helvy yang sangat menggugah kehidupan saya. Membaca cerpen ini membuat air mata saya tak berhenti mengalir. Sampai-sampai merelakan waktu tidur siang untuk membaca cerita ini sampai selesai. Hanya butuh waktu lima menit (bagi saya) untuk menyelesaikannya. Terima kasih Mbak Helvy, semoga cerita ini juga bisa menginspirasi pembaca yang lain. I Mas Gagah berubah! Ya, sudah beberapa bulan belakangan ini Mas, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah. Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah tingkat akhir di Teknik Sipil UI. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnya sendiri dari hasil mengajar privat matematika untuk anak-anak SMP dan SMA, menjadi model majalah, hingga menjadi senpai di sebuah klub karate.
“Hai cewek tomboi!” sapanya suatu kali. “Waktunya kamu belajar bela diri! Percuma kan punya Mas karateka sabuk hitam, kalau kamu nggak bisa karate?” Hari-hari kami pun bertambah dengan berlatih karate bersama. “Nggak usah kursus. Kursus sama Mas aja. Habis ini latihan modeling ya, biar jalanmu nggak lebih gagah dari Mas!” sindirnya sambil senyum. Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Ia yang menolong saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku. Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film, konser musik atau sekadar bercanda bersama teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan dulu di Kemang atau tempat-tempat yang sedang happening. Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya! “Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?” “Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?” “Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?” Dan masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga. Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya? “Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! Hehehe,” kata Mas Gagah pura-pura serius. Mas Gagah dalam pandanganku adalah sosok ideal. Kombinasi yang unik dari banyak talenta. Ia punya rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan shalat! He’s a very easy going person. Almost perfect! Huaa, itulah Mas Gagah. Mas Gagah-ku yang dulu! Namun seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah. Drastis! Dan kalau aku tak salah, itu seusai ia pulang dari Madura. “Memang ngapain sih Mas, ke Madura segala? Lama lagi!” “Diajak survei sama salah satu profesor dan kontraktor, untuk perencanaan bangunan besar di sana, Dik Manis! Sekalian penelitian skripsi Mas….” Ah, soal bangunan dan penelitian skripsi. Lalu kenapa Mas Gagah bisa berubah jadi aneh gara-gara hal tersebut? Pikirku waktu itu. “Mas ketemu kiai hebat di Madura,” cerita Mas Gagah antusias. “Namanya Kiai Ghufron! Subhanallah, orangnya sangat bersahaja, santri-santrinya luar biasa! Di sana Mas memakai waktu luang Mas untuk mengaji pada beliau. Dan tiba-tiba dunia jadi lebih benderang!” tambahnya penuh semangat. “Nanti kapan-kapan kita ke sana ya, Git. Huh. Dan begitulah. Mas Gagah pun berubah menjadi lebay dalam hal agama seperti sekarang, hingga aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang dulu, yang selalu kubanggakan kini entah ke mana….

“Mas Gagah! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa arab gundul. Tak bisa kubaca. Tapi aku bisa membaca artinya : Jangan masuk sebelum memberi salam! “Assalaamu’alaikuuum!” seruku. Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah. “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?” tanyanya. “Matiin CD-nya!” kataku sewot. “Lho memang kenapa?” “Gita kesel bin sebel dengerin CD Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!” aku cemberut. “Ini nasyid. Bukan sekadar nyanyian Arab tapi zikir, Gita!” “Bodo!” “Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh dong Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,” kata Mas Gagah sabar. “Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek, Mama bingung. Jadinya ya, dipasang di kamar.” “Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin Lady Gaga eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!” “Mas kan pasangnya pelan-pelan.” “Pokoknya kedengaran!” “Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus, lho! Ada koleksi Cat Steven alias Yusuf Islam yang Mas baru download nih” “Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!” aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah. Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Kemana CD para rocker yang selama ini dikoleksinya? “Wah, ini nggak seperti itu, Gita! Dengerin Lady Gaga dan teman-temannya itu belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lain lah ya dengan senandung nasyid Islami. Gita mau denger? Ambil aja dari laptop. Mas punya banyak kok!” begitu kata Mas Gagah. Oalaa!

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu, walau bingung untuk mencernanya. Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu, berjama’ah di masjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip di lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau baca buku Islam. Dan kalau aku mampir di kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya, “Ayo dong Gita, lebih feminin. Kalau kamu pakai rok atau baju panjang, Mas rela deh kasih voucher belanja yang Mas punya buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba Dik manis, ngapain sih rambut ditrondolin gitu!” Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboi. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga nggak pernah keberatan kalau aku meminjam kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu sering memanggilku Gito, bukan Gita! Eh, sekarang pakai manggil Dik Manis segala! Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya. “Penampilanmu kok sekarang lain, Gah?” “Lain gimana, Ma?” “Ya, nggak semodis dulu. Nggak dandy lagi. Biasanya kamu yang paling sibuk dengan penampilan kamu yang kayak cover boy itu.” Mas Gagah cuma senyum. “Suka begini, Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun.” Ya, dalam penglihatanku Mas Gagah jadi lebih kuno dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang longgar. “Jadi mirip Pak Gino,” komentarku menyamakannya dengan sopir kami. “Untung saja masih lebih ganteng.” Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga sangat kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak lucu seperti dulu. Kayaknya dia juga malas banget ngobrol lama atau becanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah, kebingungan. Dan yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah? “Sok keren banget sih Mas? Masak nggak mau salaman sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di Sanggar Gita tahu?” tegurku suatu hari. “Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!” “Justru karena Mas menghargai dia makanya Mas begitu,” dalihnya, lagi-lagi dengan nada amat sabar. “Gita lihat kan orang Sunda salaman? Santun meski nggak sentuhan. Itu sangat baik!” Huh. Nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya? Mas Gagah membawa sebuah buku dan menyorongkannya padaku. “Nih, baca, Dik!” Kubaca keras-keras. “Dari ‘Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah. Rasulullah Saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhari Muslim!” Si Mas tersenyum. “Tapi Kiai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali,” kataku. “Bukankah Rasulullah uswatun hasanah? Teladan terbaik?” kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. “Biar saja mereka begitu, tetapi Mas tidak, nggak apa kan? Coba untuk mengerti dan menghargai ya, Dik Manis?” Dik Manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel. Menurutku Mas Gagah sekarang terlalu fanatik! Aku jadi khawatir. Ah, aku juga takut kalau dia terbawa oleh orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun, akhirnya aku nggak berani menduga demikian. Mas-ku itu orangnya cerdas sekali! Jenius malah! Umurnya baru 20 tahun tapi sudah skripsi di FTUI! Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya, yaaa akhir-akhir ini ia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

“Mau kemana, Git!?” “Nonton sama teman-teman.” Kataku sambil mengenakan sepatu. “Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya!” “Ikut Mas aja, yuk!” “Kemana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah! Gita kayak orang bego di sana!” Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu yang lalu Mas Gagah mengajakku pengajian di rumah temannya. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tabligh akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku dilihatin sama cewek-cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya, aku kesana memakai kemeja lengan pendek, jins belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tak bisa kusembunyikan, meski sudah memakai topi. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai mengaji. Aku nolak sambil mengancam tak mau ikut. “Assalaamu’alaikum!” terdengar suara beberapa lelaki. Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman si Mas ini. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, senyum sedikit, nggak ngelirik aku, persis kelakuannya Mas Gagah. “Lewat aja nih, Mas? Gita nggak dikenalin?” tanyaku iseng. Dulu nggak ada deh teman Mas Gagah yang nggak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah jarang memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan ganteng. Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. “Ssssttt !” Seperti biasa, aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keIslaman, diskusi, belajar baca Al-Quran atau bahasa Arab, yaaa begitu deh!

Subhanallah, berarti kakak kamu ikhwan dong!” seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah sebulan ini berjilbab rapi. Memuseumkan semua baju you can see-nya. “Ikhwan?” ulangku. “Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?” suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami. “Huss! Untuk laki-laki ikhwan, untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita,” ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. “Kamu tahu Hendra atau Isa, kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini.” Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah. “Udah deh, Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji! Insya Allah kamu akan tahu meyeluruh tentang din kita. Orang-orang seperti Hendra, Isa, atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error atau ke arah teroris. Nggak-lah. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik. Kitanya saja yang mungkin belum mengerti dan sering salah paham.” Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku menjelma begitu dewasa. “Eh, kapan main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat, Gita,” ujar Tika tiba-tiba. “Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah,” kataku jujur. “Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih.” Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin. “Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk. Biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan pada Mbak Nadia.” “Mbak Nadia?” “Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amrik malah pakai jilbab! Itulah hidayah!” “Hidayah?” “Nginap, ya! Kita ngobrol sampai malam sama Mbak Nadia!”

“Assalaamu’alaikum, Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!” tegurku ramah. “Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!” kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku. “Dari rumah Tika, teman sekolah,” jawabku pendek. “Lagi ngapain, Mas?” tanyaku sambil mengintari kamarnya. Kuamati beberapa poster kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina. Puisi-puisi Muhammad Iqbal tentang pemuda Islam yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu empat rak koleksi buku ke-Islaman…. “Cuma lagi baca, Git,” katanya. “Buku apa?” “Tumben kamu pengin tahu?” “Tunjukin dong, Mas. Buku apa sih?” desakku. “Eit, Eiiit!” Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya. Kugelitik kakinya, dia tertawa dan menyerah. “Nih!” serunya memperlihatkan buku yang sedang dibacanya dengan wajah setengah memerah. “Nah yaaaa!” aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam itu…. “Maaaas….” “Apa, Dik manis?” “Gita akhwat bukan sih?” “Memangnya kenapa?” “Gita akhwat apa bukan? Ayo jawab,” tanyaku manja. Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara kepadaku. Tentang Allah, tentang Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang indah namun diabaikan dan tak dipahami ummatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang sering jadi sasaran fitnah dan tentang hal-hal lainnya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu. Mas Gagah dengan semangat terus berbicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikkan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya! “Mas, kok nangis?” “Mas sedih karena Allah, Rasul dan Al Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena ummat yang banyak meninggalkan Al-Quran dan Sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara kita di negeri sendiri banyak yang mengais-ngais makanan di jalan, dan tidur beratap langit, sementara di belahan bumi lainnya sedang diperangi….” Sesaat kami terdiam. Ah, Masku yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli. “Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?” tanya Mas Gagah tiba-tiba. “Gita capek marahan sama Mas Gagah!” ujarku sekenanya. “Emangnya Gita ngerti yang Mas katakan?” “Tenang aja, Gita nyambung kok!” kataku jujur. Ya, Mbak Nadia juga pernah menerangkan hal demikian. Aku mengerti meski tak mendalam. Malam itu aku tidur ditemani tumpukan buku-buku Islam milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah!

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi, meski aktivitas yang kami lakukan berbeda dengan yang dahulu. Sebenarnya banyak hal yang belum bisa kupahami, belum bisa kuterima dari keberadaan Mas Gagah, tetapi sungguh aku tak mau kehilangan sosoknya. Aku ingin bisa menjaga kedekatan kami selama ini. Kini tiap hari Minggu kami ke berbagai masjid, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat tabligh akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah, kadang-kadang bila sedikit kupaksa Mama Papa juga ikut. “Masa sekali aja nggak bisa, Pa…, tiap minggu rutin ngunjungin relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?” tegurku. Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, “Iya deh, iya!” Pernah Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung juga. Soalnya pengantinnya nggak bersanding tapi terpisah! Tempat acaranya juga begitu: dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama suvenir, para tamu dibagikan risalah nikah juga. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Ia juga wanti-wanti agar aku tak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek! Aku nyengir kuda. “Mungkin kamu, mungkin kita nggak setuju, Sayang, Tapi coba untuk menghargai ya?” katanya sambil mengusap kepalaku. Kini tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku. Soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan. “Coba pakai jilbab, Git!” pinta Mas Gagah suatu ketika. “Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol! Lagian belum mau deh jreng!” Mas Gagah tersenyum. “Gita lebih anggun kalau pakai jilbab dan insya Allah lebih dicintai Allah. Kayak Mama”. Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab. Gara-garanya dinasehati terus sama si Mas, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikompori sama teman-teman pengajian beliau. “Gita mau, tapi nggak sekarang,” kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku kini, prospek masa depan, calon suami nanti, dan semacamnya. “Itu bukan halangan,” ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku. Aku menggelengkan kepala. Heran. Mama yang wanita karier itu kok cepat sekali terpengaruh sama Mas Gagah! “Ini hidayah, Gita!” kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum. “Hidayah? Perasaan Gita duluan deh yang dapat hidayah baru Mama! Gita pakai rok aja udah hidayah!” “Lho?” Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan, kutatap lekat wajah Mas Gagah. Bagaimana tak bangga? Dalam acara seminar umum tentang generasi muda Islam yang diadakan di UI, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya! Aku yang berada di antara ratusan peserta ini rasa-rasanya ingin berteriak, “Hei, itu kan Mas Gagah-ku!” Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa! Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadis Rasul. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung lho, kok Mas Gagah bisa sih? Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kiai-kiai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar! Pembicara yang lain Mbak Nadia Hayuningtyas. Diam-diam aku makin kagum pada kakaknya Tika ini. Lembut, cantik. Cocok kali ya sama Mas Gagah! Hihi, aku jadi nyengir sendiri. Tika yang duduk di sebelahku juga tampaknya punya pikiran yang sama. Jadi kami sering lirik-lirikan dan senyum-senyum sendiri. Ketika sesi pertanyaan dibuka lagi, aku mengacungkan tangan tinggi-tinggi. Ada beberapa yang ingin bertanya. Yup alhamdulillah moderator memilihku! “Yes!” kata Tika. Kulihat Mas Gagah tersenyum dari jauh. “Assalaamu’alaikum, saya Gita, masih SMA. Mau nanya nih, gimana sih hukumnya jilbab? Kan sunnah ya?” tanyaku sambil sok menjawab sendiri. Hadirin kasak kusuk. “Ih, kok tanya itu lagi. Kan udah aku kasih tahu itu wajib,”sela Tika setengah berbisik. Aku tak peduli. “Ya, setahu saya sih gitu. Ada banyak teman saya masuk pesantren. Di sana mereka pakai jilbab, tapi pas keluar ya mereka lepas-lah, malah ada yang jadi rocker.” Gerrrrr, hadirin tertawa. Tika menatapku sambil geleng-geleng kepala. Aku bingung, tapi tetap semangat. “Kayak saya nih.. Saya mau pakai jilbab, tapi ya ntar, nunggu udah nikah, udah tua atau pensiun. Lagian yang penting kan kita bisa jilbabin hati, ya ga? Buat apa pakai jilbab kalau nggak bisa jilbabin hati. Mendingan nggak dong!” Hadirin riuh rendah, bertepuk tangan. Moderator garuk-garuk kepala, persis Tika, di sampingku. “Oke, pertanyaan ditampung.” Saat moderator meminta para pembicara menanggapi, Mbak Nadia tersenyum, “Sahabat sekalian, sebagai seorang muslimah, sedikitnya saya punya 8 alasan mengapa saya memakai jilbab.” Aku menatap Mbak Nadia yang tampak lebih cantik dengan jilbab ungunya. “Mengapa saya mengenakan jilbab?. Alasan pertama karena berjilbab adalah perintah Allah dalam surat Al Ahzab ayat 59 dan An Nur ayat 31. Kedua, karena jilbab merupakan identitas utama untuk dikenali sebagai seorang muslimah. Astri Ivo, seorang artis, justru mulai menggunakan jilbab saat kuliah di jerman. Saya Alhamdulillah mulai mengenakannya saat kuliah di Amerika.” “Wuuuuiiiiih,” hadirin berdecak kagum. "Alasan ketiga saya mengenakan jilbab, karena dengan berjilbab saya merasa lebih aman dari gangguan. Dengan berjilbab, orang akan menyapa saya “Assalamu’alaikum”, atau memanggil saya “Bu Haji” yang juga merupakan do’a. Jadi selain merasa aman, bonusnya adalah mendapatkan do’a. Hal ini akan berbeda bila muslimah mengenakan pakaian yang ‘you can see everything’." Hadirin tertawa. Hmmm. “ Alasan keempat, dengan berjilbab, seorang muslimah akan merasa lebih merdeka dalam artian yang sebenarnya. Perempuan yang memakai rok mini di dalam angkot misalnya akan resah menutupi bagian-bagian tertentu tubuhnya dengan tas tangan. Nah, kalau saya naik angkot dengan berbusana muslimah saya bisa duduk seenak saya. Ayo, lebih merdeka yang mana?” Hadirin tertawa lagi. “Alasan kelima, dengan berjilbab, seorang muslimah tidak dinilai dari ukuran fisiknya. Kita tidak akan dilihat dari kurus, gemuknya kita. Tidak dilihat bagaimana hidung atau betis kita…. melainkan dari kecerdasan, karya dan kebaikan hati kita.” Aku menunduk. Benar juga. “Keenam, dengan berjilbab kontrol ada di tangan perempuan, bukan lelaki. Perempuan itu yang berhak menentukan pria mana yang berhak dan tidak berhak melihatnya”. Hadirin manggut-manggut. Yes! “Ke tujuh. Dengan berjilbab pada dasarnya wanita telah melakukan seleksi terhadap calon suaminya. Orang yang tidak memiliki dasar agama yang kuat, akan enggan untuk melamar gadis berjilbab, bukan?” Aku menunduk lebih dalam. “Terakhir, berjilbab tak pernah menghalangi muslimah untuk maju dalam kebaikan,” ujar Mbak Nadia. “O ya berjilbab memang bukanlah satu-satunya indikator ketakwaan, namu berjilbab merupakan sebuah realisasi amaliyah dari keimanan seorang muslimah. Jadi lakukanlah semampunya. Tak perlu ada pernyataan-pernyataan negatif seperti “Kalau aku hati dulu yang dijilbabin”. Hati kan urusan Allah, tugas kita beramal saja dengan ikhlas.” “Setujuuuu,” koor hadirin. “Nah, sebagai bagian dari ummat yang besar ini, masalah jilbab bukanlah masalah yang harus membuat kita bertengkar. Pakailah dengan kesadaran dan jangan mengejek atau memaksa muslimah yang belum memakainya, malah kita harus merangkul mereka. Tunjukkan ahlak kita yang indah sebagai muslimah.” Kini semua orang bertepuk tangan. Aku berdiri memberi applaus pada Mbak Nadia. Keren banget alasannya berjilbab. “Alasan ini Mbak, yang bisa saya terima!” teriakku. “Biasanya yang saya dengar: kita, perempuan pakai jilbab untuk membantu lelaki menjaga pandangannya. Huh parah! Sebel dengarnya! Kenapa harus kita yang repot menjaga pandangan mereka? Nggak banget deh!” teriakku. Gerrrrrrr, para hadirin tertawa lagi. Sebagian menunjuk-nunjuk ke arahku. Tika menarik-narik ujung baju menyuruhku kembali duduk. Tiba-tiba, kudengar suara Mas Gagah, “Moderator dan hadirin, perkenalkan, penanya tentang jilbab ini adalah adik saya Gita Ayu Pertiwi.” Semua orang menoleh kepadaku yang masih berdiri. Aku salah tingkah. Mas Gagah tersenyum. Mbak Nadia juga. Tika nyengir. Aku makin salah tingkah. “Insya Allah sebagaimana kita semua, Gita sedang berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Ishlah dalam setiap desah napas. Kita doakan ya agar Allah memberi semua kebaikan, hidayahnya kepada Gita… dan kita semua di sini.” “Aaamiiiiiin,” seru hadirin. Suara Tika terdengar paling keras. Mas Gagah tersenyum dari jauh. Alhamdulillah sepertinya ia tak marah padaku.. “Masih mau ikut Mas nggak?” tanya Mas Gagah saat kami berdua dalam perjalanan pulang. “Mau. Ke mana, Mas? Ke tempat Mbak Nadia?” godaku. “Kirain belum kenal sama kakaknya Tika, ternyata….Uuu, Gita mau tuh jadi adik iparnya Mbak Nadia nanti!” “Hus!” Mas Gagah tersipu, menggandengku. Mobil kami terus berjalan, jauh sekali, melintasi entah daerah yang asing bagiku. Mas Gagah berhenti sekali di sebuah supermarket kecil. Aku mengerutkan kening melihatnya membeli makanan kering, mie instan beberapa kardus, buku dan alat-alat tulis. Mau ke mana? Hujan turun rintik-rintik, lalu makin deras. Mobil kami susah payah masuk di jalan kecil yang hanya pas untuk satu mobil. Jalan kumuh dengan rumah-rumah triplek dan kardus berjejalan, di sebuah kolong jembatan di daerah Jakarta Utara. Ketika hujan benar-benar reda, aku mencium aroma sampah yang kuat. Kami turun dan segera kakiku disambut cipratan air sisa hujan yang menghitam. Beberapa anak berlarian menghampiri kami, di antaranya bertelanjang dada. Wajah mereka sumringah. “Mas Gagah! Mas Gagah datang! Horeeeeee!” Mas Gagah menatapku sambil tersenyum. “Kenalkan, ini adik-adik kita, Gita!” Aku ternganga. Mataku basah saat mereka berebutan mencium tangan kami dan tak berhenti bercerita. Mas Gagah memeluk, bertanya ini itu, mengajarkan beberapa hal, juga sempat bermain bersama mereka. Belum hilang kagetku, tiga orang berbadan besar, sebagian bertato, tiba-tiba menghampiri kami. Ah tempat seperti ini memang banyak premannya. Aku sudah bersiap pasang kuda-kuda ketika kemudian…. “Gagah!” What? Mas Gagah dan ketiga orang itu berjabat tangan lalu berangkulan sambil mengucapkan salam. “Git, kenalin: ini Bang Urip, Bang Ucok dan Kang Asep.” Aku mengangguk sambil mengernyitkan kening. “Mereka yang jaga tempat ini dan melindungi anak-anak dari orang-orang jahat. Kami berkenalan enam bulan lalu dan membuka rumah baca bagi anak-anak di sini….” Aku melongo. Rumah baca? Preman? “Ya, kami preman insyap hahaha,” kata salah satu di antara mereka. Aku masih tak mengerti. “Dulu kite pernah palakin Gagah, trus kite babak belur. Nah senpai kite palak! Hehehe,” tukas Bang Urip padaku. Lalu kulihat mereka bercerita macam-macam pada Mas Gagah. “Sudah banyak perbaikan. Yang jadi copet sudah tak ada. Yg jadi garong apalagi. Piss, Piiis, Gagah. Terimakasih bimbinganmu selama ini. Eh, yang mau ikut ngaji bertambah lagi. Itu, pimpinan preman RW sebelah,” kata Bang Ucok. “Alhamdulillah. Seru itu Bang!” kata Mas Gagah akrab. “Terus, anak-anak di sini jadi tambah senang baca euy. Baca melulu. Jadi kepintaran kadang-kadang! Kami teh bisa kalah atuh sama mereka,” selak Kang Asep sambil nyengir. Mas Gagah tertawa. “Nyok kite sholat dulu, Gah. Noh mushola kite nyang bulan lalu belum kelar, sekarang ude bagus gara-gara elo dan temen-temen lo,” ujar Bang Urip. “Alhamdulillah,” senyum Mas Gagah lagi, sambil memberi isyarat tangan padaku untuk melihat jauh ke depan, arah pojok kanan dari tempat kami berdiri. Sebuah mushala kecil dengan bata merah yang baru disemen. “Eh, setiap ketemu kan kite yel dulu!” kata Bang Urip. Lalu seperti diaba-aba, kulihat mereka semua berdiri: “Preman insaaaaap!” teriak Bang Urip. Lalu kulihat Mas Gagah, Bang Ucok, Bang Urip dan Kang Asep melompat-lompat sambil mengepalkan tangan ke atas, berseru penuh semangat ala militer: “Huh huh huh huh: istiqomah!” Mereka berangkulan. Kemudian setengah berlari sambil tertawa, menuju mushala. Di belakang mereka, anak-anak kecil mengikuti sambil melambai-lambai mengajakku ke mushala pula. Ah, Mas Gagah…, apa lagi yang telah ia lakukan? Mengapa akhir-akhir ini ia semakin sering membuatku menangis, lalu menorehkan pelangi di dada yang sesak?

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Nadia senang dan berulang kali mengucap hamdalah. “Salam nggak, Mbak, sama Mas Gagah?” usilku. Mbak Nadia geleng-geleng kepala, mencubit pipi ini. “Aw!” jeritku. Dan sekarang saatnya memberi kejutan pada Mas Gagah! Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengagetkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapan syukuran ultah ketujuh belasku. Kubayangkan ia akan terkejut gembira, memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberikan ceramah pada acara syukuran yang insya Allah mengundang teman-teman, anak-anak panti yatim piatu dekat rumah kami, serta anak-anak rumah baca dan para preman insyaf di sana. Hihi, aku tersenyum membayangkan betapa serunya nanti. “Mas Ikhwan!! Mas Gagaaaaah! Maaasss! Assalaamu’alaikum!” kuketuk pintu kamar Mas Gagah dengan riang. “Mas Gagah belum pulang,” kata Mama. “Yaaaaa, kemana sih, Ma?!” keluhku. “Kan diundang ceramah ke Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus.” “Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Masjid.” “Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah inget ada janji sama Gita hari ini,” hibur Mama menepis gelisahku. Kugaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali dengan Mas Gagah. “Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!” Mama tertawa. Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

Sudah lepas Isya. Mas Gagah belum pulang juga. “Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh,” hibur Mama lagi. Tetapi detik demi detik, menit demi menit berlalu. Sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga. “Nginap barangkali, Ma?” duga Papa. Mama menggeleng. “Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa!” Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya. “Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg !” Telpon berdering. Papa mengangkat telepon. “Halo, ya betul. Apa? Gagah?” “Ada apa, Pa?” tanya Mama cemas. “Gagah…, kritis, Rumah Sakit Mitra,” suara Papa lemah. “Mas Gagaaaaaahhh!” Air mataku tumpah. Tubuhku lemas. Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Tangan, kaki, kepalanya penuh perban. Dua orang polisi hilir mudik di sekitar kami. Salah satunya sibuk menelpon. Tampak juga beberapa sahabat Mas Gagah. Beberapa suster melarang kami untuk masuk ke dalam ruangan. “Tapi saya Gita, adiknya, Suster! Mas Gagah pasti mau lihat saya pakai jilbab iniii!” kataku emosi pada suster di depanku. Mama merangkulku, “Sabar, Sayang, sabar.” Di ujung ruangan Papa tampak serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram. “Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, Suster? Dokter? Ma?” tanyaku. “Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada syukuran Gita kan?” air mataku terus mengalir. Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding putih rumah sakit. Dan dari kamar kaca kulihat tubuh yang biasa gagah enerjik itu bahkan tak bergerak! “Mas Gagah, sembuh ya, Mas…, Mas Gagah…, Gita udah jadi adik Mas yang manis. Mas Gagah…,” bisikku. “Terjadi kerusuhan di Bogor. Ada ratusan orang yang ingin merusak sebuah rumah ibadah. Gagah melintasi daerah itu. Ia turun dari mobil dan berusaha menenangkan massa,” suara seorang polisi bicara pada Papa. “Ia bahkan berdiri di depan rumah ibadah itu, melindungi mereka bersama dua orang temannya.” “Sebenarnya massa sudah tenang, mendengar apa yang disampaikan Gagah. Bahwa Islam itu mengajarkan kedamaian dan membawa pada keselamatan. Gagah bahkan bilang saatnya kita bergandeng tangan dan berjabat hati untuk membangun negeri….Mereka secara bergerombolan pun beranjak pergi,” tambah salah satu teman Mas Gagah. “Lalu kenapa jadinya begini?” tanya Mama berlinang airmata. “Entahlah, ketika massa pergi, tiba-tiba kami lihat hujan batu, entah dari mana. Sebelum kami sadar apa yang terjadi, Gagah sudah jatuh berlumuran darah!” kata teman Mas Gagah lagi. “Kami tidak lihat siapa yang melukainya!” “Lalu massa bubar,” kata salah satu polisi. “Beberapa diantaranya melepas jubah yang mereka kenakan di jalan. Katanya mereka bukan warga desa itu. Mereka entah datang darimana.” “Orang yang menyakiti Mas Gagah pasti orang jahat! Jahaaaaaaat! Gilaaa!” teriakku terisak. “Mama memelukku lagi. “Pasti, Gita. Dan Mas Gagah….Mas-mu orang baik, Gita. Ia sedang berbuat baik saat terluka…,” tapi airmata Mama tak kalah deras. Aku masih menangis dan memukuli dinding. Mama dan Papa berusaha menenangkanku. Seorang teman Mas Gagah mengingatkan bahwa ini jalan yang harus dilalui Mas Gagah. “Jalan yang dipilih Gagah adalah jalan mulia, Gita,” tuturnya. Jalan yang sungguh mulia. Kami bersaksi!” “Mana tersangkanya, Pak? Mana? Biar ia rasakan juga apa yang dirasakan Gagah sekarang! Manaaaa?” Suara seseorang, parau! Aku menoleh. Bang Ucok dari pemukiman kumuh itu! Seorang polisi menghampirinya, “Tenang, maaf…kami belum mendapatkan tersangkanya. Kami berjanji akan mengusut tuntas kasus ini.” Tiba-tiba kulihat di belakang Bang Ucok, Bang Urip dan Kang Asep tergopoh-gopoh. Mata mereka basah dan merah. Wajah mereka kaku, penuh bias kehilangan yang dalam. “Harusnya kite bertige ade di sono! Harusnya kite bertige ade di sono, ya Allaaah!” suara Bang Urip. “Gagah orang nyang paling baek, Bapak, Ibu. Dia nyang paling peduli ama kami yang dianggap sampah masyarakat. Dia deketin kami terus lagi suseh apalagi seneng. Kagak pernah ade unsur politiknye kayak orang-orang laen,” ujar Bang Urip menghampiri Mama dan Papa. “Gagah mah udah membuat kami jadi lebih pede, lebih berarti, ngerti habluminallah habluminannaas,” tambah Kang Asep. Mama Papa memandang mereka haru. Aku masih terisak di sudut ruangan. Geram. Marah. Pedih. Gelisah. Sampai kulihat Tika dan Mbak Nadia datang. Setelah mengucapkan simpati pada Mama dan Papa, mereka menghampiri, berusaha menenangkan dan menghiburku. Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit.. Sekitar ruang ICU mulai sepi. Tinggal kami, seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis, Tika, Mbak Nadia, serta beberapa sahabat Mas Gagah, Bang Ucok, Bang Urip dan Kang Asep. Aku sudah lebih tenang, berzikir dan terus berdoa, dibimbing Mbak Nadia. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah, Gita, Mama dan Papa butuh Mas Gagah, ummat juga.” Tak lama dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. “Ia sudah sadar dan memanggil nama Ibu, bapak, dan Gi….” “Gita…,” suaraku serak menahan tangis. (Baca selengkapnya)