Gresik, 15 Maret 2025 — Proses kuratorial menjadi kunci dalam menghadirkan pameran seni yang tidak hanya estetis, tetapi juga sarat dengan pesan dan makna. Hal ini tergambar jelas dalam pameran The Jumping City yang digelar oleh Yayasan Gang Sebelah. Melalui program Curator Talk bertajuk "Bedah Dapur Kuratorial", para pengunjung diberikan kesempatan untuk menyelami proses di balik layar pameran yang menyajikan karya-karya seni dari seniman Anhar dan Suef.
Acara yang berlangsung pada Sabtu, 15 Maret 2025, di Sualoka.Hub, Gresik, ini menghadirkan dua pembicara utama: Hidayatun Nikmah, kurator pameran The Jumping City, dan Ayos Purwoaji, seorang kurator yang turut mendampingi proses kuratorial pameran ini. Diskusi ini dipandu oleh moderator Gata Mahardika.
Proses Kuratorial: Dari Pemilihan Tema hingga Penyusunan Narasi
Hidayatun Nikmah, yang juga seorang kurator perempuan, memaparkan bahwa proses kuratorial bukan sekadar memilih karya, melainkan merancang sebuah narasi yang dapat menyampaikan pesan yang kuat kepada audiens. “Proses ini dimulai dengan pemilihan tema yang relevan, yang kemudian diterjemahkan melalui pilihan karya. Di pameran ini, saya ingin menunjukkan bagaimana nilai-nilai sosial, terutama terkait dengan gender, berperan dalam menciptakan makna yang lebih dalam dalam karya seni,” ungkap Hidayatun.
Pemilihan karya-karya Anhar dan Suef dalam pameran ini juga tidak sembarangan. Kedua seniman ini memiliki kesamaan dalam berkarya, terutama dalam seni damar kurung yang kental dengan representasi maskulinitas dan narasi kepemimpinan. Hidayatun menyebutkan bahwa karya mereka menggambarkan konstruksi sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin. Namun, sebagai kurator perempuan, Hidayatun mampu membawa perspektif baru yang membuka lebih banyak kemungkinan dalam menafsirkan karya-karya tersebut.
Perspektif Gender: Menyajikan Makna yang Lebih Kompleks
Salah satu sorotan menarik dalam diskusi ini adalah bagaimana perspektif gender berperan penting dalam proses kuratorial. Hidayatun menjelaskan bahwa pembacaan karya seni laki-laki oleh seorang kurator perempuan memberikan sudut pandang yang berbeda, yang sering kali membawa nuansa yang lebih beragam. "Pembacaan karya yang terlalu maskulin bisa membatasi eksplorasi terhadap makna lain yang ada di dalamnya. Dengan perspektif perempuan, saya berharap bisa menciptakan keseimbangan dalam pemaknaan dan membuka ruang bagi interpretasi yang lebih luas," jelasnya.
Ayos Purwoaji, kurator yang juga berpengalaman dalam mendampingi proses kuratorial The Jumping City, menambahkan bahwa keberhasilan sebuah pameran sangat ditentukan oleh pendekatan yang dilakukan oleh kurator terhadap seniman. "Hidayatun berhasil membangun hubungan yang sangat erat dengan Anhar dan Suef. Melalui diskusi yang intens, ia tidak hanya memahami karya lebih dalam, tetapi juga mampu merancang narasi yang kuat dan bermakna," ujar Ayos.
Pameran yang Lebih dari Sekadar Karya Seni
Pameran The Jumping City tidak hanya menyajikan karya seni, tetapi juga mengundang pengunjung untuk merenung lebih dalam tentang makna di balik karya-karya tersebut. Melalui proses kuratorial yang melibatkan banyak interaksi antara kurator dan seniman, pameran ini mampu memberikan perspektif baru yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menggugah pemikiran.
Acara Curator Talk yang diselenggarakan di Sualoka.Hub menjadi kesempatan bagi publik untuk memahami lebih jauh bagaimana proses kuratorial dapat membentuk pengalaman seni yang lebih kaya. Dengan tema yang relevan dan narasi yang kuat, pameran ini membuktikan bahwa seni bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi juga tentang pesan dan makna yang tersembunyi di balik karya-karya tersebut.
Pameran The Jumping City dapat dinikmati oleh masyarakat umum, dan diskusi tentang proses kuratorial yang mengiringinya memberikan wawasan baru bagi siapa saja yang ingin lebih mendalami dunia seni dan pameran.